PEMBINAAN 2 SHAF
Di Kegiatan Bermain dan Belajar Padhang Njingglang di Alun-Alun Tulungagung
Oleh: Anang Prasetyo
Bismillahirrahmanirrahim.
Pagi itu suasana nyaman dan tenang. Pojok alun – alun Tulungagung sisi barat Utara seolah menjadi saksi abadi. 15 tahun lalu saya sendirian mengajari anak – anak bermain memakai botol minuman sebagai media bermainnya.
Maka, hari itu Ahad 18 Oktober 2026, itu menandakan sudah 15 tahun perjalanan khidmah Komunitas Padhang Njingglang. Komunitas Bermain – Cerita – Menyanyi – Menggambar dan berkreasi. Kami biasa menyingkat dengan nama BCMMK. Metode andalan pembinaan di KOMPAN ( komunitas Padhang Njingglang).
Dari nama komunitas Padhang Njingglang pasti bisa dilacak genealogi pendidikannya darimana. Tentu saja ia adalah anak turun dari Padhang Mbulan di Menturo Jombang. Dimana Simbah Syeh Muhammad Ainun Nadjib sebagai Guru besarnya.
Kembali ke alun-alun.
Beberapa anak – anak bermain sepakbola dengan ceria. Saya mendekati 6 anak yang sedang bermain. Skornya 6-4. Maka saya beri hadiah bagi pemenangnya. Kemudian saya arahkan agar hadiahnya bisa berbagi.
Karena tempat bermain itu mau kami gunakan acara komunitas kami, maka strateginya, sebagaimana Abi KH Ihya’ ajarkan adalah ” nguwongno uwong”. Memanusiakan anak kecil itu.
Akhirnya saya bilang, kalian kalau mau belajar bersama kami, siap lho. Ternyata mereka memilih untuk pulang karena memang sudah lama bermainnya. Tentu saja setelah saya ajak bermain mencari buah beringin dan sulap menghilangkan uang.
Dalam setiap kegiatan bermain dan belajar Komunitas Padhang Njingglang di Alun-Alun Tulungagung, ada satu formasi yang sengaja kami rawat: *Pembinaan 2 Shaf.*
Shaf pertama diisi oleh anak-anak usia dini. Shaf kedua diisi oleh remaja, kadang mahasiswa, dan terkadang orang tua. Tidak ada panggung, tidak ada podium. Semua duduk setara di atas tikar, menghadap karya.
Hakikatnya, shaf pertama sedang belajar, shaf kedua sedang membina. Namun pada kedalaman yang lebih jauh, keduanya aslinya saling membina dan mengasuh.
Mengapa harus 2 shaf? Karena kami meyakini, hakikat pendidikan bukanlah transfer pengetahuan satu arah dari yang tua kepada yang muda, melainkan _ta’awun_ – saling menguatkan dan saling menumbuhkan.
*1. Metode Belajar dengan Cara Mengajar*
Ini adalah metode tertua dalam tradisi keilmuan Islam, yang dikenal dengan _Al-Ta’lim bi Al-Ta’allum_. Imam Al-Zarnuji dalam kitab _Ta’limul Muta’allim_ menegaskan bahwa cara terbaik untuk menguasai sebuah ilmu adalah dengan mengajarkannya kembali.
Di Padhang Njingglang, metode ini kami praktikkan secara langsung. Kakak mengajari adiknya.
Anak SMP yang baru kemarin mampu memotong janur, hari ini kami minta untuk mengajari adik SD cara melipat. Siswa SMK yang baru mampu menggambar tunas kelapa, kami minta untuk memandu siswa SD atau SMP cara menggambar hingga cara menyiram dan merawat.
Ketika ia mengajar, sejatinya ia sedang belajar dua kali. Pertama, belajar tentang materinya. Kedua, belajar tentang adabnya.
Inilah yang seringkali hilang dalam pendidikan formal kita. Murid diposisikan sebagai objek, bukan sebagai subjek. Mereka diminta menghafal, bukan mengamalkan. Padahal dalam tradisi pesantren yang otentik, santri yang telah khatam kitab kecil, seketika itu juga diminta menjadi _mudarris_ bagi santri baru yang datang.
Alun-Alun Tulungagung bagi kami adalah kelas terbuka. Tanpa dinding, tanpa papan tulis, namun penuh ilmu. Apalagi dibawah beringin yang meneduhkan dan memberikan asupan oksigen yang menyegarkan.
Ketika seorang anak mengajari adiknya melukis Tunas kelapa, pada saat itu ia sedang mengikat ilmunya sendiri. Sebab ilmu yang tidak diajarkan akan hilang, sebagaimana tunas kelapa yang tidak ditanam akan membusuk.
*2. Pembinaan dengan Cinta dan Teladan: Tarbiyah Nabawiyah ala Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani*
Prinsip pembinaan Padhang Njingglang banyak merujuk pada pemikiran Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, ulama besar Al Haramain. Dalam berbagai karya beliau tentang Tarbiyah Nabawiyah, beliau menegaskan satu kaidah utama:
_At-Tarbiyah bil Mahabbah wal Qudwah, la bil Amri._
Pendidikan itu dengan cinta dan teladan, bukan dengan perintah dan paksaan.
Rasulullah SAW tidak pernah membentak anak kecil yang melakukan kesalahan. Beliau mendidik dengan tiga pendekatan: _mulaamasah_ (sentuhan kasih), _mujalasah_ (kebersamaan duduk), dan _mahabbah_ (cinta yang tulus).
Maka dalam pembinaan 2 shaf, kami membaginya:
*Shaf pertama (anak-anak)* kami didik dengan _mahabbah_. Kami biarkan mereka bermain tanah, bermain janur, bermain cat. Ketika salah menggambar, tidak kami marahi. Karena menurut Abuya Al-Maliki, kesalahan anak dalam bermain adalah bagian dari proses _ta’dib_ menuju kesempurnaan. Rasulullah SAW sendiri membiarkan cucu beliau Hasan dan Husain menaiki punggung beliau ketika shalat. Itulah tarbiyah yang sesungguhnya.
*Shaf kedua (pembina)* kami didik dengan _qudwah_. Pembina tidak boleh hanya menyuruh, “Ayo menggambar!” tetapi tangannya sendiri harus ikut kotor terkena cat. Tidak boleh hanya berkata, “Ayo menanam!” tetapi tangannya sendiri harus ikut kotor terkena tanah.
Sebagaimana kaidah: _Faqidusy Syai’ la yu’thi_ – orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak akan mampu memberi sesuatu. Pembina yang tidak mencintai proses menanam, tidak akan pernah mampu menumbuhkan kecintaan menanam pada anak didiknya.
Dengan demikian, 2 shaf adalah manifestasi Tarbiyah Nabawiyah: yang besar merangkul yang kecil dengan cinta, dan yang kecil menghormati yang besar dengan adab.
*3. Dari Ta’lim Menuju Ta’dib: Konsep Pendidikan Syed Muhammad Naquib Al-Attas*
Dalam konteks filsafat pendidikan, kami bersandar pada pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dari ISTAC Malaysia. Beliau memberikan kritik yang sangat mendasar: krisis dunia Islam hari ini adalah _loss of adab_ – hilangnya adab.
Al-Attas membedakan tiga istilah yang sering tercampur dalam dunia pendidikan modern:
– *Tarbiyah:* pendidikan yang berorientasi pada pemeliharaan fisik dan kasih sayang.
– *Ta’lim:* pengajaran yang berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan.
– *Ta’dib:* pendidikan pada tingkat yang paling tinggi, yang mencakup ilmu, amal, dan adab sekaligus. Yaitu menjadikan manusia tahu di mana ia harus meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar.
Pendidikan modern kita hari ini banyak yang berhenti pada level Ta’lim. Murid menjadi pintar secara kognitif, namun miskin adab kepada gurunya. Pintar dalam seni rupa, namun tidak memiliki adab kepada alam. Ia mampu melukis pohon dengan indah, namun ia tega menebang pohon tersebut.
Padhang Njingglang berikhtiar untuk naik kelas menuju Ta’dib. Mediannya adalah *Tunas Kelapa atau Cikal.*
Tunas kelapa mengajarkan adab yang paling sempurna. Akarnya menghormati bumi sebagai simbol tawadhu, pucuknya menghormati langit sebagai simbol tauhid. Inilah makna adab yang dimaksud oleh Al-Attas: menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya yang hakiki.
Ketika anak di Alun-Alun belajar menanam cikal, ia tidak hanya belajar biologi (Ta’lim), tetapi ia sedang belajar adab:
– Adab kepada tanah: bahwa tanah bukan hanya untuk diinjak, tetapi untuk dirawat.
– Adab kepada air: bahwa air bukan hanya untuk dibuang, tetapi untuk disyukuri.
– Adab kepada sesama: bahwa karya seni bukan untuk dipamerkan sendiri, tetapi untuk dinikmati bersama dalam kebersamaan 2 shaf.
Inilah yang disebut Al-Attas sebagai _Insan Adabi_ – manusia yang beradab.
*Penutup: Alun-Alun Sebagai Madrasah Adab*
Pada akhirnya, pembinaan 2 shaf di Alun-Alun Tulungagung bukanlah sekadar baris-berbaris seperti dalam kepramukaan. Ia adalah sebuah madrasah adab.
Shaf pertama adalah simbol _cikal bakal_ – asal mula, pelopor, yang harus dijaga pertumbuhannya. Shaf kedua adalah simbol pengayom, yang menaungi.
Seperti halnya tunas kelapa, keduanya membutuhkan matahari yang sama, tanah yang sama, dan air yang sama. Tidak ada yang lebih mulia di antara keduanya.
Semoga dari debu Alun-Alun Tulungagung, dari tawa anak-anak Padhang Njingglang yang bermain janur dan cikal, akan lahir sebuah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual (Ta’lim), tetapi juga lembut hatinya (Tarbiyah) dan luhur adabnya (Ta’dib).
Generasi yang berakar kuat di bumi, namun pucuknya menjulang hingga ke langit. Dengan naungan pohon beringin yang asri dan suci. Maka generasi Tanah suci yang berjalan di jalan sunyi itu menjadi kisah abadi yg manfaati dan mberkahi.
Semoga
Wallahu a’lam.
Tulungagung, Senin 19 Oktober 2026.
Anang Prasetyo
Pembina Komunitas Padhang Njingglang
















