Penulisđź“° Anang Prasetyo
Tulisan ini dipicu dialog lewat WAG oleh Badrus Zaman. Seorang kaligrafer handal.
Beliau menuliskan komentar seputar idiom kontemporer pada kaligrafi yang dibuat oleh seorang teman pelukis.
Lalu saya mencoba menuliskan pemikiran ini. Sebab saya tiba – tiba jadi teringat momentum berdialog dg Pak Jim Supangkat di kampus IKIP Surabaya Ketintang.
Beliau tokoh besar dibalik GSRB Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia, kurator seni rupa berpengaruh Indonesia.
Saat itu topiknya perihal postmodernisme.
Saya masih mahasiswa semester 6-7. Sekira tahun 1993 barangkali.
Masih getol – getolnya mempersoalkan filsafat modern khususnya postmodernisme.
Mungkin saya sedang nervous.
Dipicu hanya gara – gara tidak boleh mengutip Al Quran dan dimasukkan kedalam skripsi saya. Oleh dosen itu tidak ilmiyah.
Kalau sekarang biasa disebut berbau – bau AGAMA. Sehingga ilmu harus dijauhkan dari agama.
Intinya ayat itu tidak boleh dijadikan sebagai rujukan dan daftar pustaka di skripsi.
Skripsi saya sendiri berjudul : ” Religiusitas Warna Lukisan Amang Rahman”.
Sebuah skripsi yang kelak saya sadari metodologinya amburadul alias metode nafsiyah alias menuruti hawa nafsu.
Maklum mahasiswa yang kurang menguasai metode penelitian. Ditambah, saat itu saya baru ‘berhijrah’. Artinya meskipun saya muslim seja kecil, tapi baru faham tentang apa itu makna Islam. Semangatnya dapat tapi ilmunya kurang. Sehingga itulah situasi batiniyah yang dulu saya rasakan.
Persoalan filsafat ini kelak 5 – 6 tahun kemudian baru terjawab tatkala saya dijumpakan Alloh dg sosok pemikir muslim tingkat dunia Ust Hamid Fahmy Zarkasyi. Saat itu beliau adalah dosen filsafat pemikiran Islam. Kini beliau jadi rektor UNIDA Gontor.
Substansinya, adalah pada epistemologi iti sendiri.
Ini yang bikin kacau dan mumetnya fikiran saya hingga membikin confused. Alias mbulet.
Padahal ternyata, ephistemologi Islam dan Barat memiliki worldviewnya sendiri – sendiri. Ia memiliki paradigma, sistem dan bahkan pola berfikir yang berbeda.
Meskipun demikian ada sisi kesamaannya sekaligus keberbedaannya. Sama tapi berbeda. Beda tapi ada yang sama.
Sebagai sumber ilmu pengetahuan ,
Barat hanya menisbahkan pada ro’yu / rasio sebagai sumber ilmu dan pengetahuan.
Cogito ergo sum kata Rene Descartes. Aku berfikir maka aku ADA.
Sementara Islam begitu unik dan kompleks. Sebab,
selain memakai ro’yu/fikiran, juga pengetahuannya bersumber pada wahyu ( Quran Hadist) dan sekaligus qolbu ( ilham, kasyaf, intuisi, ladunni, waridat dll).
Ada tiga sumber utama. Ro’yu – wahyu- qolbu. Boleh pula ditambahkan Guru ( sebagai sumber sosok otoritatif keilmuan. Juga adanya sumber laku pengalaman).
Wacana Barat dan Timur serta Islam, ini mungkin tak lagi asyik diperdebatkan menurut akademikus senirupa Djuli Djatiprambudi. Obrolan santai di rumah beliau di Batu Malang disuatu hari.
Tapi tidak bagi saya. Sebab dalam laku akademik dan spiritualitas saya, antara Barat – Timur – Islam ada dialektika seru dan pada akhirnya tunduk , sujud dan luruh pada qudrat iradat Nya.
Kembali pada postmodern sebagai renungan berfikir di bagian awal.
Intinya posmo adalah penjungkirbalikan apa yg ada di faham modern.
Intinya lagi adalah versus modernisme.
Nah ,pada saat saya bertanya kepada Pak Jim, “bagaimana jika faham posmo itu diterapkan pada agama ? Apa tidak menghancurkan agama?. Bukankah jadinya destruktif !
Aqidah dihilangkan. Syariat dihapuskan.
Yang kischt jadi profan. Dan sekian tafsiran lainnya.
Beliau saat itu sesaat terdiam. Saya heran ÄŹan sekaligus kegirangan. Maklum mahasiswa sok pinter dan sok kritis. Aslinya goblog tapi keminter heheheh.
Pada akhirnya setelah sekian waktu berjalan saya jadi maklum. Bukankah konteksnya saat itu adalah diskusi seni rupa. Frameworknya adalah wacana seni rupa. Bukan agama !.
Sehingga jika ditarik ke wilayah discourse agama tentu bukan otoritas beliau yg seniman rupa.
Saya, sekali lagi, mafhum di kemudian hari.
Maklum, bukankah mahasiswa selalu dicap harus berfikir kritis.
Tapi ya itu tadi, kadang tidak pada tempatnya. Bener tapi tidak kepener istilah Jawa nya.
Meskipun waktu itu masalahnya , batin saya, saya fikir beliau adalah kristen religius. Kristen yang sholeh.
Disisi lain pula, waktu itu saya lagi demen dg hal – hal beraroma religius. Maka demikianlah halnya yang harus terjadi.
Sebuah pengalaman yang sungguh mengasyikkan, yang dikemudian hari menjadi aryefak bersejarah. Bekal menapak dalam berkesenian dan berkehidupan intelektual akademis dan kekaryaan seni rupa.
Dikemudian tahun kemudian pula, saat saya bertemu pak Mulyono Guru Gambar, penggerak Seni Rupa Penyadaran asal Tulungagung itu, saya baru sadar. Ada perbedaan antara lukisan modern dg lukisan posmodern !.
Lukisan abstrak ,misalnya, adalah mewakili modernisme. Sementara new media art mewakili postmodernisme. Ada perbedaan diantara keduanya.
Intinya , waktu itu, dalam konteks seni rupa, banyak seniman yg latah terhadap isu dagangan barat bernama postmo ini.
Apalagi, jika kita misalnya ingin memberi cap posmo pada lukisan kita, yang sejatinya masih karya seni modern. Alias berbau modern.
Sebagai penutup.
Karena genealogis kita adalah bangsa nusantara. Dimana, kreativitasnya kearyaan yang adiluhung. Estetikanya tingkat dewa. Artistikanya bergenre lokalitas yang mengglobal dan mendunia. Serta seabreg stempel lainnya. Bahwa mungkin tidak kita sadari. Tapi itu sangat diketahui dan bahkan disadari oleh bangsa lain.
Itulah mengapa , kita dibuat pingsan dan tidur dalam mimpi panjang yang mebius kesadaran diri.
Kesadaran dan keisnyafan tentang peradaban Gunung Padang. Kejayaan Kalingga. Hingga Era kejayaan Panji. Tentang Salokanagara, Sriwijaya!, kisah luhur Kutai Kartanegara. Tentang kedigdayaan Singhasari hingga Majapahit. Demikian pula tentang Demak dan Mataram Islam, hingga era Sultan Agung yang anggun nan agung itu.
Maka aslinya, kita sedang ditunggu dunia. Serius ini. sedang dtunggu dunia. Agar kita bangun. Saat ini seperyinya memang sedang dibangunkan Tuhan yang Maha Anggun nan Indah itu. Setelah sekian lama dinistapapakan di pojok sejarah dunia.
Seolah kita hanya penonton peradaban dan bukan pemain peradaban dunia.
Jika boleh mencomot sekenanya. Penyanyi Putri Ariani yang kini mendunia , atau qori qoriah Indonesia yang berjaya di level internasional, para saintis dan seniman muda berbakat lainnya, adalah segelintir contoh.
Sekedar contoh lainnya,
Pak Arif sang direktur JIC Jakarta Islamic Centre, melalui pameran internasional Agustus 2023 kemarin.
Dimana pameran itu melibatkan 33 negara dunia,.
Sungguh, sejatinya ia sedang ‘bermain’ di wilayah pusaran globalitas.
Bahkan lebih dari itu, kita sesungguhnya sedang menjadi PANDU ditingkat dunia.
Bukan hanya ideologi Pancasilanya. Namun juga watak adiluhung yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, kebenaran sejati dan kebhinekaan hakiki dalam harmoni.
Bahkan, jika wacananya diluaskan di wilayah diaektika dunia – akhirat yang bersatu padu. Integratif wholistik. Itu semua ada di Indonesia ini.
Bung Karno saat dipameri oleh Stalin (?) mengenai kedigdayaan militer dan bangunan megahnya Rusia, Pak Karno dengan bangga dan bersyukurnya mengatakan bahwa, ia punya Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.
Itulah keagungan tiada tara.
Sebuah ideologi yang sudah ada sejak dahulu kala.
Jika berada ditangan pemimpin yang agung yang menjunjung tinggi etika dan moralitas akhlaq dan adab, yakni jujur adil, maka ia adalah Ksatria Sinisahn Wahyu. Ibarat senjata pemimpin model ini seperyi senjata Trisula. Tiga pucuk yang runcing keatas. Saktinya mandraguna. Senjata yang seolah membuat lafadz nama Tuham Pencipta, pemilik hakiki dunia akhirat ini. Sehingga dengan demikian, Indonesia ditakuti lawan dan disegani kawan.
Sebelum saya akhiri, bacalah buku berjudul Forensik Pancasila karya Budi Yuniarto. Seorang dokter yang menyintas peradaban nusantara. Beliau asal Tulungagung.
Di bukunya itu seolah menjawab persoalan darimana asal musala Pancasila.
bahwa Pancasila bukanlah produk founding fathers era kemerdekaan saja.
Namun ia adalah produk genial antar waktu dan peradaan. Sejak era Kapitayan, Hindu, Budha hingga ke Islam.
Benar – benar Bhineka Tunggal Ika !
Yang terutama adalah Sang Garuda sedang mencengkeram pita kain bertuliskan Bhineka Tunggal Ika. Yang pita itu, berdasar relief di Candi Cetho, aslinya adalah naga !
Benar ! Naga yang dicengkeram oleh Sang Garuda. Bukan sebaliknya !!!
Maka, setelah kesana kemari. Melintasi dimensi dan keilmuan. Baik agam sejarah pemikiran dan kebudayaan.
Jawaban terhadap posmo diatas kesimpulannya adalah sederhana.
Melukis sajalah. Menggambar terus sajalah !. Temukan dimensi dan sensivitas baru. Galilah media berkarya seni rupa dan seni apapun saja. Pada akhirnya mau dicap modern atau postmo dan seterusnya tak ada masalah.
jalani dengan laku batin yang lurus.
Mlaku ( berjalan) terus dg talenta pemberian Tuhan Alloh Yang Maha Indah itu !. Mlakua sing jejeg, ajeg, ngadeg. Mlaku sing teteg insyaAlloh tutug. Berjalanlah dengan tegak kontinyu dan berdiri. Bukankah kita diperintahkan Tuhan untuk mendirikan sholat bukan hanya semata mengerjakannya, tapi dirikanlah sholat !!
Dirikan !
Meminjam istilah Cak Nun, berjalanlah diatas galengan dengan terus lurus.
Niscaya jika diberi ilmu atau apapun saja rejeki saat meniti di galengan itu, berbagilah ! Jangan berhenti.
Itulah anugerah terbesar dari Nya. Bukankah Ilmu tumekane kanthi laku ?. Kalau saya sendiri akan mengatakan, ilmu tumekane kanthi mlaku.
Sebab saya diberi ilmu perihal filoaofi daun , hingga jadilah karya wayang godhong, itu karena berjalan kaki dari Tulungagung ke Salatiga. Berkah dari Nya semata.
Salam
Joglo Sendang Kamulyan
Jepun Tulungagung
Senin Kliwon 23 Syakban 1445
4 Maret 2024
Noted :
Terimakasih kepada Kyai Badrus Zaman atas pijaran ilmu dan hikmahnya sehingga memantik nyala cahaya
















