Penulis: Dewi Musdalifah
GRESIK, BN News – Satu bulan penuh karya komunitas seni rupa Power Art SMA Muhammadiyah 1 Gresik terpajang di loteng lantai dua Sualoka Hub. Pameran berakhir dengan dialog visual dan bedah karya bertajuk Imajinasi, Militansi, dan Tafsir dalam Seni Rupa bersama Joko Pramono biasa dikenal Jopram.
Power Art bukan sekadar komunitas ekstrakurikuler sekolah. Ia tumbuh sebagai ruang belajar yang memberi anak-anak keberanian membaca hidup melalui karya visual. Dari mural, pameran, sampai eksplorasi media, komunitas ini pelan-pelan membangun bahasa visualnya sendiri; tidak sibuk menjadi seragam, tetapi memberi ruang bagi setiap anggotanya menemukan cara melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Di dalamnya, anak-anak belajar bahwa karya bukan hanya soal hasil akhir, melainkan juga cara memahami diri, lingkungan, dan kegelisahan yang mereka alami.
Sualoka Hub, yang berada di Kampung Kemasan Gresik, bukan ruang yang megah seperti galeri pada umumnya. Ia lebih menyerupai rumah singgah bagi gagasan-gagasan yang ingin tumbuh. Loteng lantai duanya, dengan kayu, cahaya temaram, dan sudut-sudut yang terasa akrab, memberi ruang bagi karya untuk bertemu dengan pemerhatinya.
Tempat kecil yang justru membuat percakapan menjadi lebih dekat dan manusiawi. Tidak ada kesan formal yang membatasi. Orang datang, duduk, mendengar, memandang karya, lalu berbicara seperti sedang berada di ruang yang mereka kenal.
Dalam sambutannya, Irfan Akbar Prawiro selalu Ketua Dewan Kebudayaan Gresik mengucapkan selamat dan mengapresiasi kegiatan pameran tersebut. Ia meyakini bahwa salah satu cara mendorong manusia menjadi kreatif adalah melalui sensori, jalan interaksi. Menurutnya, ruang-ruang pertemuan seperti pameran memberi kemungkinan bagi seseorang untuk belajar membaca, merasakan, dan menanggapi kehidupan dengan lebih terbuka.
Ia juga menekankan bahwa dalam konteks berpameran, yang paling penting justru keberanian anak-anak SMA untuk mempresentasikan karya mereka sendiri. Tidak takut disebut jelek, amatir, atau masih pemula, tetapi tetap bersedia berdiri di hadapan publik dan mempertahankan karya yang mereka buat. Baginya, itu adalah satu tahap keberanian yang tidak selalu dimiliki anak-anak lain, baik karena kesempatan maupun niat untuk melangkah sejauh itu.
Dialog visual dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2026. Hujan turun deras memberi atmosfer sejuk. Di tengah udara yang basah dan bau tanah yang lembap, ruang diskusi itu terasa hidup oleh orang-orang yang datang membawa perhatian dan waktu mereka.
Hujan seperti membentuk suasana sendiri; membuat malam berjalan tenang dan mendalam. Ditambah lagi ketika listrik padam, cukup memberi nuansa tersendiri. Kata Jopram, keadaan itu justru menambah hening dan syahdu. Terasa dekat.
Hadir Nabilah Wardah yang memandu dialog dengan hangat. Sosok muda yang selama ini ikut menjaga ruang-ruang seni tetap hidup di tengah kota yang terus bergerak cepat. Cara bicaranya tidak berjarak. Ia memberi ruang bagi percakapan tumbuh alami, membuat anak-anak berani menyampaikan proses berpikir mereka sendiri tanpa takut salah.
Joko Pramono, pelukis yang lama hidup di dunia seni rupa dan pendidikan, membuka percakapan visual tidak hanya tentang karya, tetapi tentang keberanian membaca diri sendiri melalui karya itu. Ia berbicara tentang bagaimana karya sebaiknya tidak berjalan lebih jauh dari kemampuan diri sendiri. Tentang pentingnya menceritakan sesuatu yang benar-benar dipahami dan dijalani, karena dari kejujuran itulah nilai tumbuh.
Baginya, praktik adalah keberanian; tangan bekerja, tubuh akrab dengan proses, sebagaimana arca dan ukiran batu lahir dari ketekunan yang panjang. Percakapan kemudian bergerak pada persoalan mengenali diri sendiri. Bahwa seniman tidak harus terus terikat pada metode lama atau sibuk menjadi serupa dengan orang lain.
Identitas dibangun dari keberanian mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Dari desain, pemindahan bentuk, pilihan warna, hingga kemasan, semuanya menjadi bagian dari tanggung jawab artistik. Karya bukan hanya benda yang selesai dipajang, tetapi sesuatu yang membawa pengetahuan dan nilai bagi masyarakat.
PDi tengah dialog itu, anak-anak Power Art tampak tidak sekadar menjadi peserta yang mendengar. Mereka sedang belajar membaca dirinya sendiri. Mengapa membuat karya seperti itu. Mengapa memilih warna tertentu. Mengapa menghadirkan bentuk yang berbeda.
Salah satu peserta pameran, Viola Dzakiyyah Ariyanti kelas XI Soshum 3, mengaku mendapat pengalaman baru dari dialog visual tersebut. Menurutnya, acara itu menyenangkan karena memberi ruang untuk berdiskusi tentang hal yang ia sukai, yaitu berkarya, bersama orang-orang yang lebih senior dan lebih memahami proses pengaryaan.
Ia juga merasa kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena mulai memahami bagaimana proses dan tahap-tahap pengaryaan yang lebih profesional. Melalui dialog bersama Jopram, mereka mulai diajak melihat karya lebih dalam, tidak hanya dari bentuk, tetapi juga konsep dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang justru sering luput ketika seni hanya dipandang sebagai hasil jadi. Malam itu, karya anak-anak tidak lagi sekadar dipajang di dinding loteng. Mereka berubah menjadi ruang percakapan: tentang identitas, kegelisahan, cara melihat hidup, dan usaha memahami diri sendiri di tengah begitu banyak bentuk yang ingin menyeragamkan.
Di sana, seni terasa tak berjarak. Ia duduk bersama hujan, obrolan, dan wajah-wajah yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. (*)















