BN News – Dzulhijjah tinggal menghitung hari. Iduladha telah berlalu. Daging qurban mungkin sudah tak lagi tersisa di dalam kulkas kita—habis disantap, dibagikan, atau disimpan hanya dalam ingatan. Namun, justru di saat gema takbir mulai mereda, muncul pertanyaan yang paling mendesak: Apakah semangat qurban masih tinggal dalam jiwa kita, ataukah telah ikut lenyap bersama padamnya hari-hari tasyrik?
Apakah kita hanya menyembelih hewan, atau juga menyembelih ego, kerakusan, dan kesombongan yang telah lama bercokol dalam diri?
Qurban tidaklah semata peristiwa ritual. Ia adalah isyarat spiritual—sebuah undangan langit agar kita menanggalkan segala hal yang menghalangi perjalanan menuju Allah swt. Ketika Nabi Ibrahim As. bersedia menyembelih putranya, itu bukan sekadar ketaatan luar biasa, tapi juga penanda bahwa tiada cinta dan keterikatan apa pun yang boleh melebihi cinta kepada Allah SWT. Maka, setiap Muslim seharusnya bertanya: apa “Ismail” dalam hidupku yang harus aku relakan demi Allah SWT?
Dalam dimensi batin, qurban adalah latihan untuk memutus keterikatan kepada dunia yang berlebihan (ḥubb al-dunyā), merasa cukup dengan diri sendiri (‘ujub), dan mengharapkan pujian manusia (riya’). Ia menuntut keikhlasan sejati. Menyembelih hewan bisa dikerjakan dalam waktu lima menit, tetapi menyembelih nafsu bisa memakan waktu seumur hidup.
Namun di situlah inti ajaran qurban: mengalahkan diri sendiri untuk menghidupkan nurani. Sebagaimana hewan qurban yang disembelih lalu dibagikan manfaatnya kepada sesama. Demikian pula semestinya diri kita: semakin berserah, semakin bermanfaat.
Allah swt berfirman:
” Tidaklah daging qurban dan darah qurban itu sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS al-Ḥajj: 37)
Maka, mari kita renungi:
– Sudahkah aku menyembelih kesombonganku?
– Sudahkah aku melepaskan keterikatan pada harta dan nama baik?
– Sudahkah aku menjadi manusia yang lebih jujur, rendah hati, dan penuh kasih?
Qurban adalah bentuk konkret dari perjalanan tazkiyatun-nafs—penyucian jiwa. Dan bulan Dzulhijjah, sebagai salah satu bulan mulia, memberikan panggung terbaik untuk menata ulang arah hidup kita, menjadikannya lebih terpusat kepada Allah swt, bukan kepada diri atau dunia.
Nilai qurban bukan hanya berlaku secara individual. Dalam konteks sosial-politik, makna qurban justru semakin terasa tajam. Kekuasaan, jabatan, pengaruh, bahkan citra di media sosial—semua itu adalah bentuk keterikatan yang kerap lebih sulit dilepaskan daripada harta atau ternak.
Para pemimpin — baik di rumah, masyarakat, maupun negara — dipanggil untuk menghadirkan semangat qurban dalam setiap keputusan dan kebijakan. Artinya: meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Seorang pemimpin sejati adalah yang setiap hari rela berqurban: mengorbankan waktu, kenyamanan, dan bahkan ambisinya, demi keadilan dan kesejahteraan umat.
Sayangnya, yang terjadi sering kali sebaliknya. Kekuasaan menjadi altar tempat menyembelih nilai-nilai: keadilan digadaikan demi elektabilitas, empati ditukar dengan kepentingan golongan, dan ego pribadi dibungkus dengan retorika agama. Di sinilah relevansi qurban begitu nyata: ia menjadi cermin yang menguji sejauh mana seseorang benar-benar bertakwa, atau hanya memperdagangkan simbol-simbolnya.
Mari kita bertanya jujur, terutama bagi yang diberi amanah:
– Apakah aku telah menyembelih hasyrat berkuasa?
– Apakah aku telah berlaku adil meski tidak menguntungkan diriku?
– Apakah aku telah mendahulukan rakyat daripada kelompok dan keluarga sendiri?
Qurban telah berlalu. Tapi semangatnya tidak boleh ikut berlalu. Ia harus terus hidup, menyala dalam dada, menjadi kompas spiritual dan etika dalam setiap langkah kita.
Karena qurban sejati adalah ketika seseorang mampu mempersembahkan dirinya kepada Allah swt, bukan hanya daging. Yaitu saat seorang hamba rela melepas segala yang disukai demi meraih ridha-Nya. Qurban sejati adalah menyembelih ‘aku’ agar ‘Dia’ lebih nyata dalam hidup kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, qurban bisa berwujud sederhana:
– Memilih kejujuran meski merugikan materi.
– Meminta maaf lebih dulu, meski merasa benar.
– Memberi tanpa berharap balasan.
– Mengalah dalam debat, demi menjaga ukhuwah.
– Menahan amarah demi melindungi ketenangan bersama
Bulan Dzulhijjah masih tersisa. Saatnya kita jaga bara qurban itu tetap menyala. Jangan padamkan ia dengan rutinitas, jangan lemaskan ia dengan kenikmatan semu, dan jangan remehkan ia dengan berkata: ‘Toh Iduladha sudah lewat.’
Setiap hari adalah peluang untuk qurban. Dan setiap qurban yang kita lakukan dengan tulus akan menjadi jejak kebaikan yang tak akan hilang di sisi Allah SWT.
Akhirnya, qurban bukan soal ritual tahunan, melainkan jalan menuju Allah swt. Jalan yang ditandai dengan luka-luka jiwa, kerelaan untuk melepaskan, dan keteguhan untuk taat.
Semoga setiap qurban yang telah dan akan kita lakukan—baik yang berupa hewan, harta, waktu, perasaan, atau ego—diterima Allah swt., dan menjadi wasilah kita menuju kedekatan hakiki kepada-Nya.
Mari kita hidupkan semangat qurban, karena dunia ini terlalu penuh dengan orang yang menuntut, dan terlalu sedikit yang rela berkorban. (*/Ahmad Chuvav Ibriy)
*Ahmad Chuvav Ibriy, penulis adalah Alumni Ponpes Lirboyo sekaligus Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik dan Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik – Jatim
















