Penulis📚 Didik Hendri Telisik Hati
BN News.com – Dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-78, Tim Melek Industri bersama para Tokoh Pemerintahan Desa, Tokoh Masyarakat, Aliansi Kepemudaan (Kartar, Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU), menggelar “RENUNGAN SUCI DI MAKAM PEJUANG”, sebagai bentuk rasa syukur dan meneladani para Pejuang Kemerdekaan, Rabu (16/8/2023) malam.
Renungan Suci Tim Melek Industri mengusung tema “Meneladani Kiprah Pejuang Santri Era Penjajahan, Sebagai Bekal Pekerja Santri Era Saat ini, Dalam Mengisi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Tercinta”.
Para Pekerja Santri pun kompak guyub rukun berangkat bersama dari Mabes Melek Industri “Santri Nusantara Bersatu” ke lokasi Makam Pejuang setempat, yaitu Almarhum Bapak Mat Takim dipimpin oleh Bang Dul Haris, Cak Rizal, Cak Kamal, Mas Andri, dkk.
Selain Mbah Takim, ada beberapa tokoh pejuang kemerdekaan dan veteran perang lainya seperti Mbah Bejo (kakek wak modin Yul), Bapak Mat Jakfar (dari kesatuan Hisbullah) dan juga Mayjen Kusnan dari Kesatuan TNI AL. Beliau pernah ikut operasi Dwikora di bawah Komando Laksamana Yos Sudarso dengan Armada AL Macan Tutul. Mayjen Kusnan adalah salah satu dari beberapa ABK Macan Tutul yang selamat dari serangan belanda, sedangkan sang Komandan Yos Sudarso gugur dalam pertempuran laut dengan tentara Belanda.
Pembina Tim Melek Industri Lestari Widodo menyampaikan, kegiatan ini didasari oleh Ikhtiar Tim Melek Industri bersama para Penggerak yang secara tulus ikhlas, berniat menumbuhkan semangat jiwa Nasionalisme dan Patriotisme Para Pekerja Santri dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke -78 Tahun.
“Para Pekerja Santri dalam Wadah Tim Melek Industri berupaya mengisi zaman kemerdekaan saat ini dengan sebaik-baiknya , upaya tidak luntur atau berkurang sedikit pun. Selain itu juga secara lahir bathin, berniat meneladani kiprah pejuang masa lalu agar hirrah-nya tetep abadi selamanya,” ungkap Kang Widodo sapaan akrabnya.
Rasa syukur di era kemerdekaan saat ini, sambung Kang Widodo, Para Pekerja Santri menjadikan momen kemerdekaan sebagai sebuah tonggak bersejarah, sebagai pengingat di era digitalisasi, industrialisasi, bahkan globalisasi, agar tidak sejengkal pun, melupakan kiprah pejuang masa lalu atau istilahnya Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah).
“Dalam Dunia Industri, Para Pekerja Santri dengan bekal nilai-nilai luhur dari para tokoh pejuang, supaya bisa mewarnai serta menumbuhkan sikap dan jiwa bersyukur serta bekerja sebaik-baiknya untuk kokohnya negara Indonesia tercinta,” tandasnya penuh semangat dan rasa syukur.
Dalam Renungan Suci tersebut, Sesepuh / Tokoh Masyarakat Bapak Miftah Sya’roni menyampaikan wejangan, Almarhum Bapak Mat Takim bersama Almarhum Bapak Mahmud dkk, merupakan salah satu tokoh pejuang tempo dulu yang tergabung dengan barisan penggempur dalam (PD), asli dari Kampung Bandaran Desa Bedanten.
Beliau diberikan tugas khusus, yaitu bagian mencuri senjata penjajah waktu itu. Selain bekal semangat berjuang dalam membela tanah air tercinta, beliau terkenal bisa “menyirep” alias bisa masuk ke kandang penjajah dengan tidak bisa dilihat oleh musuh yang saat itu di Lak Mireng, merupakan tempat berkumpulnya Para Penjajah Belanda.
Karena terkenal dengan jiwa santrinya, konon kemampuan linuwih / khusus Almarhum Bapak Mat Takim tersebut, beliau mendapatkan Ijazah dari salah satu Kyai Sepuh dari Sidayu yaitu Kyai Achmad (terkenal ahlinya tukang gembleng).
Di masa-masa akhir hayatnya, Beliau banyak pesan kepada Anak, Cucu, sekaligus generasi penerus bangsa, bahwa dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, dibelani dengan bertaruh harta, benda, bahkan nyawa.
“Sehingga di Zaman Kemerdekaan ini , generasi muda sudah seharusnya wajib bersyukur serta mengisinya dengan perilaku baik, menjaga tanah air sesungguhnya dengan belajar yang giat, rajin supaya harkat dan martabat bangsa diakui dunia,” tegas Sesepuh Miftah Sya’roni.
Sebagai catatan, Beliau kembali Kehadirat illahi di usia 120 Tahunan. Meskipun keberadaan beliau sudah tidak ada lagi, tapi nilai-nilai perjuangan, semangat berkobar membela tanah air, saat ini menjadi teladan para generasi penerus, supaya bener-bener dengan tulus ikhlas mencinta Tanah Air Indonesia sesungguhnya serta seutuhnya.
Selanjutnya acara Tahlil dan Doa Bersama Para Pekerja Santri, dipimpin langsung oleh Ustadz Khoirul Abidin selaku Modin Desa. Setelah itu Pemasangan Bendera Suci Merah Putih oleh Buyutnya Mbah Takim, yaitu Ananda Alfin Iman Saputra, sebagai tanda Tegaknya Merah Putih di Bumi Indonesia Tercinta.
Perlu diketahui, acara Renungan Suci kali ini, Tim Melek Industri d dampingi Para Tokoh-Tokoh Pegiat Pelestari Penggede Makam Sepuh Desa Bedanten, yakni Bapak Miftah Sya’roni, Bapak Khoirul Abidin, serta Bapak Khoirul Bashori (Abhiseka).
Usai Renungan Suci, Penggerak Melek Industri bersama Para Pekerja Santri kembali ke Mabes melanjutkan jagongan rutin, Bersemangat kuat dalam era kemerdekaan, dengan tidak meninggalkan pesan moral para pendahulu, yaitu mencintai tanah air tercinta dengan sepenuh hati….SEKALI MERDEKA , TETAP MERDEKA…!!! Peduli, Ter – Panggil, Ber – Gerak, Hadir, SEMANGAT MENGABDI. (Didik Hendri Telisik Hati).
















