BN News – Arsitektur dan seni rupa tak semestinya berjalan dalam ego disiplin ilmu masing-masing, seakan berjalan sendiri-sendiri. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, arsitektur dan seni saling menyublim dalam banyak elaborasi. Keduanya tak terpisahkan, berkelindan saling dukung satu sama lain. Diskusi ini menjadi upaya membuka cara pandang baru tentang seni dan arsitektur, ketika keduanya berusaha mencari irisan untuk berjalan beriringan sebagai praktik kehidupan maupun ilmu yang diharapkan memiliki manfaat luas untuk masyarakat. Yang tak kalah penting, dunia perkembangan anak yang berkait dengan seni dan arsitektur juga akan dibahas. Bagaimana mestinya orang tua mendorong perkembangan anaknya dari sisi kreatif, yang nantinya akan berdampak secara holistik dalam kehidupan sang anak.
Diskusi dengan tajuk “Relativitas Antara Seni dan Arsitektur” ini akan dibawakan oleh 3 narasumber dari berbagai latar belakang. Ketiganya Adalah: Hermawan Dasmanto (Arsitek), Christine Wonoseputro (Akademisi) dan Agus Koecink (Seniman). Diskusi ini juga akan dipandu oleh Defry Ardianta, seorang akademisi sekaligus praktisi arsitektur dari Surabaya.
Salah satu nara sumber diskusi, Hermawan Dasmanto mengungkapkan bahwa seni dan arsitektur bertumbuh dari konteks sosial, budaya, dan ekosistem tertentu yang mempengaruhi bentuk kehadiran dan pemaknaannya. Dalam pemahaman modern, keduanya kerap dipisahkan melalui dikotomi antara seni sebagai ranah ekspresi dan arsitektur sebagai ranah fungsi. Seni cenderung bersifat menyeruak dan menyebar, memancarkan makna serta mencari medium atau inang untuk disusupi dan ditafsirkan ulang. Sementara itu, arsitektur bersifat merangkul dan mengintegrasikan, mengasimilasi berbagai elemen di sekitarnya seperti aktivitas, struktur, material, dan simbol ke dalam satu kesatuan ruang. Melalui pertemuan dua kecenderungan ini, seni dan arsitektur sesungguhnya tidak pernah sepenuhnya terpisah, melainkan saling membentuk pengalaman ruang manusia.
Narasumber lainnya yakni Christine Wonoseputro berpendapat bahwa Tantangan jaman digital, akan membuat banyak orang bertanya kembali apakah pendidikan seni dan dukungan dalam mengasah kapabilitas seni visual masih relevan bagi anak-anak kita ke depan? Open House rumah Ambarteja, Larasrasa dan Pameran Tunggal Kedua Samurai Jalu merupakan sebuah realita pembelajaran keluarga yang tertata apik dalam sebuah kemasan publik untuk menantang apakah masyarakat kita juga masih memberi ruang eksplorasi dan ekspresi bagi anak-anak dalam menyatakan jati diri kemanusiaannya yang terancam serbuan Artificial Intelligence. Hal ini menitipkan sebuah pesan hakiki akan perwujudan “ruang kehidupan” yang akan menjadi titipan bagi para perupa matra dan spasi dalam menghadirkan karya-karya arsitektur terutama hunian dan ruang tumbuh kembang anak di masa depan.
Sedangkan Agus Koecink berpendapat bahwa “Berbicara tentang relativitas dalam seni dan arsitektur sepertinya membahas pergeseran besar dari “seni sebagai dekorasi” menjadi “seni sebagai fungsi dan persepsi”. Mengubah cara kita membangun gedung, tetapi juga cara kita memandang ruang dan waktu.”
“Era Bauhaus, Sinkronisasi Seni dan Industri. Pada era ini, relativitas muncul dalam bentuk fleksibilitas fungsi. Seni tidak lagi bersifat absolut atau hanya untuk estetika kaum elit, melainkan relatif terhadap kebutuhan manusia modern. Artinya, ekspresi kebebasan seperti karya Samurai Jalu bisa menjadi bagian dari arsitektur karya Sang Ayah. Form Follows Function, Keindahan sebuah objek bersifat relatif terhadap seberapa baik objek tersebut berfungsi. Ruang Universal, konsep bahwa ruang harus bisa beradaptasi dengan berbagai aktivitas manusia, bukan terjebak dalam satu fungsi kaku. Dimensi Keempat (Waktu), Arsitektur mulai mempertimbangkan bagaimana manusia bergerak melalui ruang. Sebuah gedung tidak dinilai dari satu sudut pandang (perspektif tunggal), melainkan dari pengalaman temporal saat orang berjalan di dalamnya. Dalam Seni Rupa, Relativitas bisa dilihat dari Komposisi (Kandinsky & Klee)
Dua tokoh besar Bauhaus, Wassily Kandinsky dan Paul Klee, membawa relativitas ke dalam teori warna dan bentuk. Keseimbangan Dinamis, tidak ada titik pusat yang absolut dalam lukisan. Keseimbangan dicapai melalui tegangan antar warna dan garis yang saling berinteraksi. Ditinjau dari Persepsi Psikologis, Makna sebuah warna atau bentuk bersifat relatif terhadap apa yang ada di sekitarnya. Lingkaran kuning akan terlihat berbeda jika diletakkan di atas latar belakang biru dibandingkan latar belakang putih.”, Agus Koecink melanjutkan.
“Sejak dalam perkembangannya, seni dan arsitektur berhenti mencari “kebenaran tunggal” atau gaya yang abadi. Sebaliknya, mereka mulai merayakan hubungan antara subjek (manusia), objek (karya), dan ruang-waktu. Keindahan menjadi sesuatu yang cair, bergantung pada fungsi, material, dan pengalaman personal pengamatnya.” pungkasnya.
Diskusi yang berlangsung Minggu, 8 Februari 2026 pukul 09.00-12.30 WIB
di Grand Royal Regency K5 03A, Cluster Lavender, Wage, Kec. Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia ini sekaligus menjadi penutup rangkaian acara “Open House Rumah Ambarteja, Larasrasa dan Pameran Tunggal Kedua Samurai Jalu”, yang merupakan even pertama dari acara “20 th andyrahman architect”.
Yang ingin hadir di acara ini bisa scan barcode di poster atau klik link berikut: https://bit.ly/andyrahmanarchitect20thn
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.
Informasi pameran:
Seniman: Samurai Jalu
Arsitek: Andy Rahman
Kurator: Arik S. Wartono
Penulis: Agus Koecink dan Saiful Hadjar
















