Surabaya, BN News – Suasana berbeda tampak di sebuah warung kopi di kawasan Lidah Wetan, Surabaya. Puluhan pecinta musik gothic metal itu berkumpul untuk mengikuti pengajian bertajuk Ngaji Lan Ngopi Bareng Gothic Metal.
Sekitar 80 peserta dari berbagai komunitas musik hadir dalam kegiatan rutin bulanan yang dipandu Habib Muhammad Assegaf. Dengan nuansa santai khas warung kopi, para peserta tampak menikmati diskusi keagamaan sambil ngopi bersama.
Selain itu, dua band gothic metal Inalillahi Gothic Metal dan Negatoria juga mempertunjukan musik untuk menghibur puluhan peserta. Paran peserta pun menikmati lantunan musik methal dengan lirik yang diteriakan dengan suara khas.
Fredy Setyo Adi Wijaya Keyboard Band Innalillahi Gothic Metal mengatakan pihaknya baru pertama kali mengikuti kegiatan ngaji bersama komunitas musik Gothic. Selama ini ia hanya diundang ketika konser bersama komunitas pecinta musik gothic dan hanya memainkan musik.
“Ini kali pertama saya hadir dalam ngaji dan juga memainkan musik gothic. Ini menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan, dan sekaligus menjadi kesempatan kita untuk meluruskan stigma masyarakat bahwa yang selama ini menganggap musik gothic banyak yang buruk,” kata Fredy, Minggu (10/5/2026).
Menurut Fredy, pada musik Gothic, ada pesan-pesan ke agamaan, mulai dari kematian, tuhan yang maha esa, akhir dunia, hingga keserakhaan penguasa. Namun, penyampaian pesan-pesan dalam lirik lagu yang mereka ciptakan itu, hanya kalangan pecinta gothic saja yang memahami.
“Ada lagu kita yang berjudul berjudul ‘Tuhan Tak Akan Pernah Mati’. Itu menceritakan bahwa selain Tuhan, semuanya akan musnah pada akhirnya. Jadi kita sebagai makhluk tuhan jangan sampai terlena akan duniawi. Namun hal itu kita sampaikan lewat musik gothic,” tambah Fredy.
Hal senada disampaikan Andi wahyudi salah satu pemain band gothic bernama Negatoria. Menurutnya banyak masyarakat yang belum tau akan aliran musik yang ia mainkan selama ini kebanyakan pesan tentang kehidupan.
“Ada beberapa lagu kita juga menceritakan tentang Akhir alam semesta dan keserakahan penguasa. Namun kita hanya bisa menyampaikan lewat jeritan suara underground yang tidak semua kalangan tau,” kata Andi.
Baik Fredy dan Andi, sepakat dengan adanya kolaborasi komunitas Gothic Metal dan Ngaji Lan Ngopi bisa menambah ilmu agama bagi para pecinta musik gothic. Ia berharap bisa membuat acara serupa dengan komunitasnya dilain waktu dan tempat yang berbeda.
“Nanti kita juga ingin buat pengajian yang jamaahnya dari komunitas kita semua. Agar para pecinta gothic yang tidak mengerti agama, bisa belajar tentang agama untuk kehidupan setelah kematian,” kata Fredy yang diamini Andi.
Sementara itu, Habib Muhammad Assegaf mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat untuk merangkul seluruh kalangan tanpa melihat latar belakang komunitas maupun penampilan. Menurutnya, dakwah harus bisa hadir di tengah semua kelompok masyarakat, termasuk komunitas musik metal.
“Semua punya hak untuk belajar agama. Kami ingin menciptakan ruang yang nyaman, santai dan penuh persaudaraan. Salah salah satunya dengan komunitas ini,” ujarnya.
Dalam pengajian itu, peserta diajak berdiskusi mengenai kehidupan, toleransi, hingga nilai-nilai keislaman yang dikemas ringan dan mudah diterima anak muda. Serta bagaimana mengajak orang terdekat bisa bertaqwa kepada tuhan dan rasulnya.
“Bagaimana pun, semua punya hak belajar agama. Dan kita bisa mengajak mereka dengan apa yang mereka sukai dengan menyisipkan kecintaan kepada Allah dan Nabi Muhammad,” pungkasnya.
Kegiatan Ngaji Lan Ngopi Bareng Gothic Metal ini pun mendapat respons positif dari masyarakat. Selain menjadi wadah silaturahmi, acara tersebut dinilai mampu menghapus stigma negatif terhadap komunitas pecinta musik metal. (*)
















