Penulis📰✍️ Anang Prasetyo
BN News – Pameran perdana alumni yang tergabung di dalam IKA SRD UNESA ini berlangsung dari 20 – 23 Nopember 2024. Pameran yang sangat singkat. Bertempat di Galeri Merah Putih alun – alun Surabaya. Dibuka pagi pk. 09.00 sampai malam pukul 22.00 WIB.
Senimannya diantaranya adalah :
Salamun Kaulam, Wayan Setyadarma, Djuli Djatiprambudi, Chrisyanti Angge, Vera, Khusnul Bahri , Huri, Ahmad Dzawil , Hendri R. Sidik, Abah Roni, Anang Prasetyo , Andiy Qutuz , Bagas KP, Anang Prahara, Erlia , Novi Rosandi, Aris Daboel S , Sugihartono , Subeki , Rahmat Widadi, Achmad feri, Widodo Sulak , Agung gondrong Cak Dhar , Rocky , Suwarni, Ahmad Mahzumi , Cipto Lukman Hakim, Eko Sumilir, Pramudya ,, Machfoed Gembong , Simpen Prayitno , Mbah Slamet , Basuki Ratna , Achmad Safi’i, Dadok, Anwar Sanusi , , Arik S Wartono , M. Arifin , Arif Fajar , Ubedillah, Cak Yak , M Ibrar , Fahril Alvin B.
Pameran ini lintas generasi, melibatkan beberapa alumni sejak 1979 hingga 2014.
Tajuk yang diangkat dalam pameran ini adalah Lalu Kini.
Karena melibatkan 4 dekade dan angkatan tentu saja ada tegangan yang harus dicatat dan dimaknai.
Sebab ini adalah pameran perdana yang melibatkan banyak angkatan.
Sehingga ada tegangan sosial, kreativitas , spiritual dan emosional masing – masing seniman. Seluruhnya menyatu dalam aura psikologis dan spiritualitas kekaryaan dan secara person to person, meminjam istilah Djuli Djatiprambudi dari katalog pameran, ini menghasilkan beragam karya yang mencerahkan mata batin dan visual penikmatnya.
Mau tak mau, pameran Lalu Kini itu adalah doa dan memiliki sebuah kadar keniscayaan dalam keterkaitan para senimannya.
Yaitu bahwa adanya sebuah jalan yang pernah ditempuh oleh para pendahulu, kemudian ditempuh oleh generasi berikutnya. Ini adalah estafet pergerakan yang tak boleh putus.
Harus ada energi yang berkoeksistensi, dan bersinergi dalam keberagaman. Mampu berbhineka tunggal ika. Sebuah watak dasar yang dimiliki bangsa Indonesia sejak awal kelahirannya.
SIKLUS 100 TAHUNAN
Sebagaimana perjuangan untuk meraih kemerdekaan Indonesia, maka pameran ini juga memiliki kadar nilai yang kurang lebih sama. Yakni menapaki siklus seratus tahunan.
Terlalu panjang jika saya harus menyebut angka di tahun 1230, 1330, 1430, 1530. Yang pasti era Sriwijaya hingga Mpu Sindok, Ken Arok, Erlangga, Kertanegara, Raden Wijaya dan tokoh besar lainnya.
Yang terdekat, di tahun 1630 muncul sosok pembaharu Tanah Jawa. Sultan Agung Hanyokrokusumo yang menyatukan Nusantara.
Tahun 1830 muncul Sang Eru Cokro Pangeran Diponegoro.
Tahun 1830 muncul Guru Bangsa HOS Cokroaminoto yang melahirkan murid bernama Paduka Yang Mulia, Sang Timur Ir Soekarno.
Lalu apa hubungannya dengan kesenirupaan Indonesia ?.₩
Sejarah mencatat Ir Soekarno sang patron seni rupa Indonesia itulah yang memproklamirkan Indonesia sebagai negara merdeka di hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945.
Sekarang, memasuki tahun 2024 di bawah Presiden Prabowo Subianto, sungguh kehadirannya menghentakkan dunia. Ia mendatangi pemimpin negara adidaya China , Rusia, Amerika untuk bersatu sebagai tetangga yang saling menjaga.
Akankah muncul sosok pembaharu pada 2030 nantinya ?. Pemimpin yang memegang tampuk kuasa dunia. Indonesia untuk dunia. Pancasila untuk mengayomi semua bangsa. Membebaskan penjajahan Israel atas Palestina.
Maka, boleh jadi keberadaan Profesor Djuli Djatiprambudi menjadi sosok perupa di siklus 100 tahunan Indonesia tersebut.
Hal ini dikuatkan dengan penyelenggaraan perdana pameran ASF IKA SRD UNESA yang pertama. Meskipun jauh sebelumnya sudah pernah direncanakan penyelenggaraan pameran. Namun takdir Tuhan lah pameran itu bisa terselenggara.
Kini, masing – masing alumni memiliki garis jalan dengan warnanya sendiri. Jujur, itu memperkaya warna dan gaya kesenirupaannya.
Layaknya warna dasar warna primer merah kuning biru. Warna itu yang mereka peroleh dari kampus Unesa. Lalu mereka kembangkan dengan warna lainnya. Percampuran darinya mampu menghasilkan warna sekunder, tersier, komplementer, dan jutaan warna lainnya.
Namun , sesungguhnya dalam teori warna cahaya, seluruh warna tersebut, aslinya bersimpuh sujud menjadi warna cahaya putih di semesta Nya.
Bukankah setiap manusia mampu berkreasi dengan sifat yaa Mushowwir Nya . Atau tatkala manusia mencipta karya, sesugguhnya telah meminjam sifat yaa Kholiq Nya. Serta dengan sifat keindahan pada indahnya silaturahmi dan indahnya hasil karya seni , sejatinya kita telah dipinjami sifat estetika artistika Yaa Jamil Nya.
Namun, kesadaran atau keinsafan diri sendiri setiap alumni, telah menuntun pada pencapaian- pencapaian karya. Baik itu di masa lalu untuk dibaca. Atau masa kini untuk dihayati. Seluruhnya merupakan dimensi kerja yang tak berkesudahan.
Mudji Sutrisno (146:2020) menyebut bahwa ” ketika kehidupan dihayati dengan memperindahnya dan memuliakannya, melalui rasa, naluri, atau hasrat maka yang muncul adalah ekspresi- ekspresi karya pathos, naluriah yang tidak mampu dibahasakan dengan bahasa logos rasional tersurat tetapi berada dalam ketersiratan penuh misteri, tak terkatakan verbal, namun mencari ungkap – ungkap simbol mitos, tanda untuk menampilkan nuansanya”.
Maka jika belajar dari budayawan Emha Ainun Nadjib yang kini perjalanannya diteruskanj oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh atau akrab dipanggil Mas Noe , demikianlah kehidupan yang harus terjadi dan harus terus bergulir. Iwan Fals menyebut sebagai daun – daun, satu – satu telah berguguran. Dimakan usia. Tak ada tangis tak ada tawa.
Para dosen pengajar ada sudah pergi mendahului, namun ada yang masih dianugerahi kehidupan. Demikian pula para alumni mahasiswa ada yang telah wafat dan ada yang terus berkarya. Bahkan telah berkarya dalam bentuk dan bidang lainnya, menggairahkan kesenian yang mendunia, sebagaimana alm Faris dengan Jember Fashion Festival misalnya. Atau penulis sejarah pertama Walisongo , yang alumni IKIP Surabaya. Penulis fenomenal alm. Ki Agus Sunyoto. Memberi pijakan dalam penulisan sejarah Walisongo berdasar catatan arkeologi.
Setiap karya yang lahir dan dilahirkan sesungguhnya adalah artefak pada zamannya.
Sebagaimana sinyalemen Syed Naquib Al Attas (115:2001) ” tiap hakekat dan kebenaran itu hanya untuk tiap diri dan zamannya jua, karena dia berubah mengikuti tafsiran terbaru tiap jaman dan keturunan mendatang. Maka tiap nilai dan kepercayaan dan pegangan hidup akan senantiasa berubah berganti dengan yang lain meskipun tiap satunya itu dianggap sah belaka bagi tiap diri yang mengamati mengamalkannya pada jaman dan keturunannya yang tertentu”.
Sehingga setiap tahapan dalam suatu kekaryaan atau bahkan wujud dalam berpameran seni rupa selalu menghadirkan perwajahan yang multi dimensional.
Sinyalemen Djuli Djatiprambudi (3:2003) mendapati titik kebenarannya ” Seni rupa selalu hadir dalam kecenderungan yang multifaset”.
Keragaman wajah ini tak terelakkan, sebab dimensi rohaniah, spiritualitas, psikososial manusa cenderung mengalami pembelajaran yang baru dalam hidupnya. Sehingga mereka yang hadir dan menyatu dalam pameran Lalu Kini ini seolah mendialektikakan persoalan personal dalam perjalanan hidupnya. Mau tidak mau pasti multifaset. Multi dimensi. Multi kultural dan keberagaman- keberagaman lainnya.
Walhasil , apapun dan bagaimanapun pameran ini diselenggarakan, sesungguhnya merupakan pencapaian artistik yang unik dan personal.
Artinya bahwa gagasan dan ide itu sedemikian rupa merupakan capaian kualitas artistik dan estetik para pesertanya.
Djuli Djatiprambudi (51:2003) mengatakan “yang unik dari kesenian sebenarnya adalah keunikan cara bagaimana suatu gagasan ditampilkan, cara yang membuat gagasan itu tampil sedemikian hingga bukan hanya menyatu pikiran, melainkan memagut totalitas perasaan dan imajinasi lewat bentukan – bentukan inderawi”
Sehingga apa yang tersaji di dalam.pameran ini merupakan akumulasi keunikan dan progresivitas diri para senimannya. Masing -asing memiliki tanggung jawab berkesenian dalam kebudayaan. Dan itulah hakekat peradaban sesungguhnya.
MENAPAK JALAN CAHAYA
Pameran Lalu Kini , saat ini sedang menapaki langkah bersejarah dalam peradaban manusia. Mafhum sama – sama dibimbing dalam pusat keilmuan dan tonggak peradaban bernama IKIP Surabaya atau UNESA sekarang.
Mutiara – mutiara itu kini berkilauan dan bertebaran dalam wilayah Nusantara dan dunia.
Maka, sudah semestinya , setiap pencapaian harus dimaknai dalam bingkai kebahagiaan dan kesyukuran. Itu yang mahal harganya saya rasa. Harta yang tak ternilai kiranya.
Lalu Kini , adalah perjalanan sunyi dalam peradaban illahi. Bertawaf dalam diri di semesta Nya, yang terjaga dalam alam ruh yang fitri. Menata setiap setiap makna dan meniti setiap hakikat diri insani.
Walhasil, meminjam istilah para sufi dalam tasawuf. Para seniman dengan ma’rifat ( baca : tahu , arif secara visual) , setelah bertahun – tahun mentafakuri dan mentadaburi alam Nya yang kita lukis dan kita mimesisi, dengan cat, kanvas dan media lainnya, maka sebenarnya inilah jalan atau toriqoh berkesenirupaan sesungguhnya.
Hingga pada akhirnya, insyaaAlloh, bisa wushul atau sambung dalam samudera hakekat Nya.
Pengalaman batin dan spiritualitas seseorang para alumni seni rupa Unesa, didapatkan setelah lama bergelut dalam dunia materi seni rupa. Kekayaan immaterial itulah yang hari ini sedang kita panen.
Jika secara visual, ditunjukkan dan dipertontonkan dalam karya oleh peserta pameran Lalu Kini.
Pada hakekatnya , sedang menonton nilai – nilai immaterial yang bersifat kudus dan spiritual. Itulah harga yang sungguh sangat spesial.
Perjumpaan dengan Tuhan Sang Pencipta kita. Maha Kreator itu sungguh melebihi batas – batas dimensi kemanusiaan.
Selebihnya, bahwa jika pameran ini mencoba menawarkan kerinduan visual generasi masa lalu, yang notabene telah mencapai maqomat tertentu, untuk dilalu lalangkan pada lini masa kekinian, maka itu sekali lagi, adalah sebuah kesadaran bersama atas dinamika sosial dan peradaban luhur dalam kurun masa dan peradaban manusia.
Kalaupun toh ada kealpaan dalam menjalani perjalanan hidup, itu sesungguhnya merupakan dialektika manusiawi untuk dimaafkan. Dimaklumi dan khas manusia.
Bahwa kehidupan di dunia, tak ada yang abadi. Namun masa kini adalah catatanb abadi untuk kita kenang pada saatnya nanti.
Selamat berpameran
Selamat merayakan keindahan
(Penulis adalah alumni PSRK IKIP Surabaya 1991,Guru Seni Rupa SMKN 1 Boyolangu, pelukis dan pembina KOMPAN Komunitas Padhang Njingglang tinggal di Tulungagung)
Sumber bacaan :
1. Risalah untuk Kaum Muslimin, Syed Naquib Al Attas ISTAC , 2001
2. Mmembaca Rupa Wajah Kebudayaan, Mudji Sutrisno, Penerbit Kanisius cet 6 , 2020
3. Tinjauan Seni, Djuli Djatiprambudi, Penerbit UNESA Unoversity Press 2003
















