Penulis📰✍️ Didik Hendri Telisik Hati
BN News – Anti kritik adalah sikap menolak atau menyerang balik kritik yang diberikan orang lain. Akibat dari sikap itu, seseorang akan menjadi haus pengakuan dan pujian serta kritik hanya dianggap sebagai ancaman.
Realitas inilah yang ditolak keras oleh seorang Muhammad Bahrul Ghofar. Mantan aktivis yang kini menjadi Kepala Desa (Kades) Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik ini justru intens blusukan gelar Cangkruk’an siap menerima apapun kritikan dari masyarakat.
Bahkan, Kades yang familiar dengan sapaan Cak Lurah ini sering mewarnai beranda media sosial, terutama Tik Tok, baik posting aktivitasnya maupun live yang ia lakukan saat blusukan dari RT ke RT yang dikemas dalam bentuk “Cangkruk’an Bareng Warga”.
Cak Lurah Ghofar mengatakan, kegiatan “Cangkruk’an” ini bertujuan untuk serap aspirasi masyarakat. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya mampu memperluas dan mempercepat sebaran informasi saja, tetapi juga mampu mengakses usulan (uneg uneg) dari masyarakat secara langsung.
“Sehingga, apabila ada usulan yang belum terakses oleh Pemdes bisa segera ditindaklanjuti, baik itu yang berupa solusi maupun yang berupa perencanaan program,” ungkapnya.
Untuk diketahui, terkait dengan program “Cangkruk’an” ini patut diacungi jempol dan menjadi contoh bagi Kades atau seorang pemimpin lainnya. Betapa tidak, untuk mewujudkan kegiatan seperti ini dibutuhkan keberanian yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Sebab, Kepala Desa dan seluruh perangkat desa harus siap menerima saran, masukan, kritikan, bahkan cemoohan dari masyarakat secara langsung di forum tersebut dengan gaya bahasa yang bermacam-macam. Pasalnya, warga yang hadir memiliki latar belakang beraneka ragam, baik pendidikan, pergaulan, pekerjaan, bahkan status sosial masing-masing.
Kegiatan Cangkruk’an Cak Lurah Ghofar bersama warga ini diikuti oleh seluruh Perangkat Desa, BPD, Lembaga Desa serta masyarakat di masing-masing RT. Kegiatan Cangkruk’an ini tidak hanya dilakukan dalam forum resmi, tetapi juga dilakukan di mana pun selama ada warga yang ingin berdiskusi atau berbincang santai seputar permasalahan desa. (Didik Hendri Telisik Hati)
















