Penulisš°āļøĀ Kemenag Jatim/Telisik Hati
Surabaya, BN News ā Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar resmi menutup Bimbingan Teknis PPIH KloterĀ TerintegrasiĀ Embarkasi Surabaya Tahun 2025 pada Rabu (19/3). Bimbingan Teknis (Bimtek) ditutup setelah digelar selama 5 hari mulai dari Sabtu, 15 Maret 2025.
Para peserta adalah 292 petugas kloter Embarkasi Surabaya yang berasal dari Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Bali. Mereka terdiri dari ketua kloter, pembimbing ibadah haji, dan petugas Kesehatan.
Hadir pada penutupan bimtek, Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Jawa Timur, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dan para fasilitator.
Pada sambutannya, Kakanwil mengungkapkan menjadi seorang petugas haji berarti harus memiliki karakter untuk menjadi pembina dan pelindung para jemaah haji.
āSaya yakin Bapak /Ibu mampu tentunya harus dibarengi dengan doa karena pada hakikatnya manusia tidak punya kekuasaan, kekuatan, maupun kemampuan melainkan diiringi berdoa kepada Allah SWT,ā tuturnya.
Pada kesempatan ini, Kakanwil menjelaskan bagaimana menjadi petugas haji yang baik dan benar.
Ia menjelaskan bahwa petugas haji harus bertaaruf dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai petugas haji.
āAnda harus memahami siapa petugas haji itu,Ā karena jika memahami, maka Anda akan melaksanakan tanggung jawab sebaik mungkin karena akan diminta pertanggungjawaban oelh Allah SWT,ā tuturnya.
Lebih lanjut ia menerangkan, taaruf bukan hanya secara fisik atau jasadiyah tetapi juga secara nafsiyah atau jiwa.
āSebagai petugas, Bapak/Ibu jangan hanya sekedar tahu jemaahnya tetapi harus dapat melebur dan dekat dengan jemaah. Jangan merasa jaim (jaga image). Status anda adalah pelayan. Abaikan jabatan atau status sosial anda,ā ujarnya.
Dengan melakukan taaruf nafsiyah, para petugas haji akan melaksanakan tanggung jawabnya dengan optimal karena merasa diawasi Allah SWT.
āSah atau tidak hajinya para jemaah, itu juga menjadi tanggung jawab Bapak/Ibu petugas,ā ujarnya.
Selain dapat bertaaruf dengan tugas-tugasnya, Kakanwil mengungkapkan petugas haji harus memiliki sikap ta’awun yaitu siap memberikan pertolongan tanpa membeda-bedakan jemaah.
āJangan hanya jemaah yang cantik saja atau yang sehat yang ditolong. Jemaah yang lansia, yang disabilitas, semua kita bantu tanpa membeda-bedakan,ā ujarnya.
Yang tidak kalah pentingnya, untuk dapat menjadi petugas haji yang baik maka ia harus memiliki sikap takalluf yaitu memaksa dirinya untuk senantiasa dapat menolong dan melayani jemaah dalam berbagai situasi dan kondisi.
āDengan bersikap takalluf, Bapak/Ibu berupaya memudahkan para jemaah dalam beribadah,ā tandas Kakanwil sembari menambahkan petugas haji juga harus memiliki sikap Tafahhum (melepaskan segala apa yang dilakuan dari selain Allah) dan Itsar (mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri)
Kakanwil berharap dengan mengikuti bimtek, para petugas semakin siap lahir batin dalam melayani jemaah.
āSabar dan senyum dalam melayani jemaah. Insyaallah itu akan menebarkan energi positif kepada para jemaah,ā pungkasnya.
Para peserta bimtek mengikuti berbagai materi secara hybrid. Dengan mengikuti bimtek, diharapkan dapat mencetak petugas yang professional dalam melayani jemaah haji. (Kemenag Jatim/Telisik Hati)
















