• Beranda
  • Hubungi Kami
  • Info Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik 
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, September 4, 2026
  • Login
Bumi Nusantara News
  • Beranda
  • Nasional
  • Birokrasi
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Kesehatan
  • Sosial Politik
  • Serba Serbi
  • Potret Desa
  • Seni & Budaya
  • Wisata
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Birokrasi
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Kesehatan
  • Sosial Politik
  • Serba Serbi
  • Potret Desa
  • Seni & Budaya
  • Wisata
No Result
View All Result
Bumi Nusantara News
No Result
View All Result
Home Seni & Budaya

Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara

Telisik Hati by Telisik Hati
4 September 2026
in Seni & Budaya
0
Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara
352
SHARES
352
VIEWS
WhatAppsFacebook

Oleh: Arik S. Wartono

“Hati anak adalah permata yang masih mentah. Ia menerima setiap bentuk yang kau cetak di atasnya.”
— Imam Al-Ghazali

GRESIK, BN News – Pameran Tunggal Annisa Nismara (usia 11 tahun) seniman muda atau lebih tepatnya seniman anak dari Gresik, Jawa Timur. Pameran tunggal Annisa Nismara yang perdana ini digelar di Galeri Merah Putih, Kompleks Balai Pemuda, Jalan Gubernur Suryo No.15 Surabaya. 5–10 September 2026.

Ketika Anak Meminjam Kanvas Untuk Bicara

Ada saatnya kita harus berhenti mengukur seni dari kelurusan garis, dari kepatuhan pada teori warna, atau dari kelancaran teknik. Ada saatnya kita harus mengukur seni dari satu hal yang paling langka di dunia orang dewasa: keberanian untuk jujur. Di titik itulah kita bertemu Annisa Nismara.

Nama lengkapnya Annisa Nismara Halimah, lahir di Gresik, 11 Maret 2015. Saat ini ia duduk di kelas 6 SD Al-Islam, Gresik. Masih berusia 11 tahun. Dalam dunia seni rupa, usia sering dipakai untuk mengecilkan. “Oh, masih anak-anak.” “Oh, wajar kalau begitu.” Tapi pada Annisa, usia justru menjadi pembesar. Karena apa yang ia lakukan di usia 11 tahun adalah sesuatu yang banyak orang dewasa gagal lakukan sepanjang hidupnya: mengatakan yang sebenarnya, tanpa berbelit, tanpa menyembunyikan.

Sejak berusia 4 atau 5 tahun, nama Annisa Nismara sudah tercatat dalam beberapa kompetisi internasional. Ia pernah meraih Gold Artist pada Picasso an International Art Contest kategori Creative Brilliance di India tahun 2019, kembali meraih Gold Artist pada Picasso Water Colour Art Contest 2020, dan meraih penghargaan yang sama pada 2025. Pada usia 4-5 tahun ia sudah menjadi Juara 2 Space Foundation International Student Art Contest di Amerika Serikat. Jejak pamerannya pun panjang. Dari Gresart di Icon Mall Gresik, pameran berdua dengan Isabell Roses untuk Biennale Jatim 9, pameran di Wisma Halim Demak, Milad ITB Ahmad Dahlan di Tangerang, Galeri Merah Putih Surabaya, Kopi Macan dan Wisma Abhipraya Yogyakarta, Bandara Juanda, hingga yang terbaru tahun 2026 di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur.

Tapi semua daftar itu bukan inti dari _Catatan Visual_. Inti dari pameran ini adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit: Annisa tidak pernah berhenti mencatat. Lima belas karya dalam pameran ini adalah lima belas halaman dari buku hariannya. Ditulis bukan dengan pena, tapi dengan sapuan kuas, torehan pisau palet dan lelehan cat. Bukan sekadar untuk dipuji, tetapi untuk diberi nama. Karena ada banyak rasa di dunia ini yang tidak punya nama, sampai seorang anak menggambar dan melukisnya sebagai catatan visial.

Bahasa Rupa Yang Naif, Tapi Tidak Polos

Kata “naif” sering disalahpahami. Dikira berarti belum bisa, belum tahu, atau asal-asalan. Padahal dalam sejarah seni, naif adalah sebuah sikap. Ia adalah keputusan untuk tidak berbohong. Dan itu yang dilakukan Annisa Nismara.

Lihat cara ia bekerja. Sapuannya cepat. Tidak menunggu cat kering. Warnanya ditumpuk, digores, dikikis, lalu dibiarkan menetes. Tidak ada blending halus. Tidak ada anatomi sempurna. Tapi ada urgensi, ada desakan! Annisa tidak melukis setelah ia memahami persoalan. Ia melukis justru agar ia bisa memahami. Kanvas adalah tempat ia berpikir dan mencatatnya. Karena itu setiap karya terasa masih basah. Masih hangat bahkan panas, seolah baru selesai lima menit yang lalu.

Dalam bahasa rupa anak, ini adalah kejujuran paling mentah. Belum terkontaminasi oleh “bagusnya harus begini” atau “yang benar itu begini”. Dan justru di sanalah kekuatannya. Ketika kita berdiri di depan karya Annisa, kita tidak sedang melihat hasil akhir. Kita sedang menyaksikan proses. Kita sedang melihat seorang anak sedang berdialog dengan dunianya, dengan takutnya, dengan rindunya, dengan keluarga, rumah dan kampungnya, lingkungan sekitarnya.

Catatan Bullying: Ruang Merah Untuk Amarah Yang Ditahan

Dari lima belas karya, ada lima catatan yang menjadi poros dari _Catatan Visual_. Catatan pertama adalah tentang luka yang paling sering kita abaikan karena dianggap “biasa”: _bullying_ atau perundungan.

Dalam karya berjudul _Catatan Bullying_ (2026) media cat akrilik di atas kanvas 50×50 cm, Annisa memakai latar merah pekat. Bukan merah yang cerah. Merah yang menekan, yang membuat dada sesak. Di tengahnya ada sosok hitam yang membungkuk, memeluk dirinya sendiri. Tidak ada pelaku yang digambar. Tidak ada adegan. Yang ada hanya rasa. Rasa ingin mengecil, rasa ingin menghilang, rasa memeluk diri karena tidak ada orang lain yang memeluk.

Annisa Nismara_Catatan Bullying_AOC_50X50Cm_2026

Goresan hitam itu tidak rapi. Ia ditekan kuat, berantakan, seolah kuas-pisau paletnya juga ikut marah. Itulah kejujuran Annisa. Ia tidak sedang menjelaskan teori psikologi tentang bullying. Ia sedang mencatat: begini rasanya ketika kata-kata orang lain masuk ke dalam tubuhmu dan tinggal di sana, tidak mau keluar.

Karya ini memaksa kita berhenti bertanya “beneran dibully apa enggak sih?”. Dan mulai bertanya “sakitnya seperti apa?”. Karena seringkali orang dewasa baru percaya kalau ada luka fisik. Padahal luka yang paling dalam seringkali tidak meninggalkan memar.

Catatan Child Abuse: Bisik Yang Lebih Keras Dari Teriak

Masih dalam bab luka, Annisa kemudian menurunkan intensitas suaranya. Jika _Catatan Bullying_ berteriak dengan warna merah, maka _Catatan Child Abuse_ (2025) berbisik dengan hitam-putih.

Annisa Nismara_Catatan Child Abuse_AOC_50X50Cm_2025

Kanvas 50×50 cm ini hampir seluruhnya gelap. Di tengahnya muncul sosok putih pucat dari belakang. Ia mengecil, menunduk, seolah ingin melebur ke dalam kegelapan. Di sudut kanan atas, sebentuk kaki besar dengan sepatu menggantung. Belum menyentuh. Tapi sudah mengancam. Dan jarak itu, jarak antara kaki yang menggantung dan tubuh yang mengecil, adalah bagian paling menyakitkan dari karya ini.

Karena kekerasan tidak harus terjadi untuk melukai. Cukup dengan menunggu. Cukup dengan kemungkinan. Dan seorang anak akan hidup dalam ketakutan itu setiap hari. Tekstur akrilik yang ditoreh tebal-tebal di tubuh sosok putih itu seperti memar. Seperti memori yang menempel di kulit dan tidak bisa dihapus dengan sabun.

Annisa melukis ini dengan pilihan palet minimalis: hitam, putih, abu-abu. Sudah, tidak ada warna lain. Bahkan dalam teori warna, hitam dan putih bukanlah warna, tapi valiu. Karena dalam pengalaman ini memang tidak ada “warna-warni moral”. Ada yang menyakiti. Ada yang disakiti. Ada keheningan yang memaksa anak menanggungnya sendirian. _Catatan Child Abuse_ bukan jeritan. Ia adalah bisik. Dan bisik seorang anak seringkali lebih keras dari teriakan seribu orang dewasa, karena ia tidak punya kepentingan apa-apa selain ingin aman.

Jantung Hati: Anatomi Dari Rasa Yang Tidak Kelihatan

Setelah berbicara tentang kekerasan dari luar, Annisa berbalik ke dalam. _Jantung Hati_ (2026), akrilik di atas kanvas 50×50 cm adalah karya menyentak dalam pameran ini.

Lagi-lagi kita melihat sosok dari belakang. Tanpa kepala yang utuh. Tanpa wajah yang bisa kita tebak. Hanya punggung polos. Dan di tengah punggung itu, ada jantung merah besar yang digambar keluar dari dada. Seolah ditembus dari dalam dan dipaksa keluar.

Annisa Nismara_Jantung Hati_AOC_50X50Cm_2026

Judulnya memakai bahasa ibu. “Jantung Hati”. Bukan jantung secara anatomi. Tapi tempat bersemayamnya rindu, kecewa, sayang yang tertahan, takut kehilangan. Di usia 11 tahun kebanyakan anak diajarkan untuk kuat, untuk jangan cengeng, untuk menyimpan sendiri. Annisa melakukan sebaliknya. Ia mengeluarkan jantungnya. Ia taruh di atas kanvas. Ia bilang kepada dunia: ini aku, ini sakitnya.

Latar hitam yang pekat membuat sosok itu tampak sendirian. Tidak ada orang lain. Hanya dirinya dan rasanya. Karya ini mengingatkan kita bahwa anak-anak juga punya kedalaman. Mereka juga patah hati. Mereka juga kecewa. Hanya saja kita jarang bertanya. Kita menganggapnya “masih kecil, belum ngerti”. Padahal yang tidak mengerti seringkali adalah kita.

Catatan Harian #3″, Seri Catatan Personal

Karya terbarunya, “Catatan Harian #3″ (2026), akrilik di atas kanvas, 100×100 cm, merupakan salah saru seri dari “Catatan Harian” yang divisualkan. Dalam seri karya ini Annisa Nismara yang menulis tentang dirinya sendiri. Di usia 11 tahun, seniman muda asal Gresik ini membuat kanvas besar 100×100 cm yang terasa seperti membuka buku harian yang tidak ditulis dengan kalimat, tetapi dengan cuaca batin.

Annisa Nismara_Catatan Harian #3_AOC_100X100Cm_2026

Karya ini abstrak, liar, dan penuh lapisan. Biru gelap yang dingin bertabrakan dengan abu, putih, dan semburat merah yang menetes seperti luka. Goresan spontan dan tekstur tebal menunjukkan proses yang cepat, mendesak, seolah emosi tidak bisa ditunda sampai kering. Ada garis-garis merah yang turun dari atas, ada tetesan putih yang mengalir ke bawah. Seperti hujan. Seperti air mata. Seperti hari-hari yang tidak selesai diurai.

Judul “Catatan Harian” menegaskan sifat karya ini: pribadi, rutin, dan jujur. Ia tidak berusaha indah. Ia berusaha benar. Di sinilah kita melihat keberanian Annisa untuk tidak menjelaskan. Ia tidak memberi tahu kita “aku sedih karena apa”. Ia hanya menunjukkan bagaimana rasanya sedih itu: sumpek, berlapis, berantakan, tapi tetap ingin keluar.

Dalam konteks pameran _Catatan Visual_, karya ini menjadi jantung dari keseluruhan pameran. Jika _Catatan Buliying_ dan _Catatan Child Abuse_ merekam kekerasan di luar, dan _Jantung Hati_ merekam luka di dalam dada, maka _”Catatan Harian #3″_ merekam prosesnya: bagaimana seorang anak memproses dunia yang terlalu bising, terlalu cepat, terlalu banyak tuntutan.

Yang luar biasa adalah, Annisa tidak melarikan diri ke warna-warna cerah yang “anak-anak”. Ia memilih jujur pada gelapnya. Dan justru dari kejujuran itulah muncul keindahan yang berbeda: keindahan karena berani terlihat rapuh.

_”Catatan Harian #3″_ mengingatkan kita bahwa anak-anak juga punya hari-hari berat. Mereka juga punya malam yang panjang di kepala. Dan kadang, satu-satunya cara mereka bertahan adalah dengan menuangkannya ke atas kanvas, sebelum ia menenggelamkan mereka.

Ini bukan sekadar lukisan. Ini adalah bukti bahwa anak-anak juga berhak punya ruang untuk merasa, tanpa harus buru-buru “positif” atau “kuat”.

Landscape Cerme: Catatan Tentang Rumah

Setelah empat catatan tentang luka, Annisa memberi kita jeda. _Landscape Cerme, Gresik_ (2025) hadir seperti hela napas. Salah satu dari lima karya yang dilukis di atas kanvas 100×100 cm dalam pameran ini. Dan berbeda dari karya lain, lukisan ini dibuat on the spot di sebuah sawah di Cerme, sekitar satu kilometer dari rumah Annisa.

Ia membawa kanvas, cat, dan dirinya. Lalu duduk di tengah angin, suara burung, serangga, dan langit yang berubah-ubah. Karena itu goresannya terasa hidup. Hijau sawah ditoreh tebal dan liar. Tanah coklat kemerahan diaduk kasar, seolah masih basah oleh pijakan. Pohon pisang di sisi kiri berdiri besar seperti penjaga. Di kejauhan dua gunung biru muncul samar di balik awan. Langitnya tidak biru manis. Ia mendung, berlapis, dan ada tetesan cat yang turun, tanda bahwa saat melukis cuaca juga ikut bekerja.

Annisa Nismara_Landcape Cerme_AOC_100X100Cm_2025

Tidak ada manusia di dalam lukisan ini. Karena yang dilukis bukan manusia. Yang dilukis adalah tempat manusia itu tumbuh. _Landscape Cerme_ mengingatkan kita bahwa sebelum anak-anak mencatat luka dunia, mereka terlebih dulu mencatat rumah. Dan rumah, bagi Annisa, adalah sawah, gunung, dan langit yang selalu berubah. Tempat ia belajar bahwa hidup, seperti cuaca, tidak selalu cerah, tapi tetap layak untuk dilukis.

Sisa Catatan: Peta Emosi Yang Lengkap

Sepuluh karya lain melengkapi peta ini. _Taukah Kalian_ (2024) adalah teguran. Kalimat besar di atas permukaan abu-abu yang menetes. Pertanyaan yang tidak pernah dijawab orang dewasa. Trilogi _Catatan Harian_ (2025), _Catatan Harian #2_ (2025), dan _Catatan Harian #3_ (2026) adalah cuaca batin. Dari kabut, ke secercah emas, ke luapan biru dan merah yang tidak bisa lagi ditahan.

_Ngukruk_ (2025) menggambar burung hitam yang bertengger sendirian. Kata “ngukruk” dalam bahasa Jawa artinya menyendiri, merenung. Itu metafora paling pas untuk sepi. _Figur Pagi_ (2026) memberi kita matahari. Dua sosok di bawah cahaya merah. Hangat dan sederhana, sebagai penyeimbang dari semua catatan kelam.

_Lorong_ (2026) dan _Bukit Biru_ (2026) adalah ruang transisi. Jalan yang kabur, bukit yang misterius. _Bunga Curcuma Hutan_ (2026) dan _Waduk Sumengko_ (2026) merayakan detail kecil. Satu bunga merah di tengah hutan, satu permukaan air yang tenang. Dan _Sapi Merah Kecil_ (2024) adalah kasih Annisa pada hal-hal sederhana di kampungnya.

Semuanya ditampilkan dengan bahasa yang sama. Bahasa yang tidak minta disetujui. Bahasa yang hanya ingin didengar.

Penutup: Mengapa Kita Harus Membaca Catatan Ini

Kita hidup di zaman yang menuntut anak untuk cepat dewasa, cepat pintar, cepat berprestasi, cepat “positif terus”. Tapi jarang sekali kita memberi ruang bagi anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang takut, yang sedih, yang bingung, yang rindu, yang marah.

Catatan Visual_ adalah ruang itu.

Annisa Nismara tidak menawarkan solusi, apalagi menggurui. Ia hanya mencatat. Dan dari lima belas catatan itu, kita diminta melakukan tiga hal. _Pertama_, mendengar. Bukan mendengar kata-kata, tapi mendengar gambar. Karena kadang gambar lebih jujur dari mulut. _Kedua_, bertanggung jawab. Setelah melihat catatan tentang _bullying_ dan _child abuse_, kita tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu. Ruang aman untuk anak adalah kerja kita bersama. _Ketiga_, menghormati. Menghormati bahwa anak punya cara sendiri untuk memproses dunia. Dan cara itu layak dipajang di galeri, diapresiasi dengan layak.

Annisa Nismara, 11 tahun, dari Gresik, telah memberi kita pelajaran paling berharga. Bahwa seni tidak harus indah untuk menjadi penting. Bahwa jujur lebih berharga dari sempurna. Bahwa masa depan bisa kita bayangkan bersama, jika kita berani membaca catatan hari ini.

“_Let’s IMAGINE the future together_”, demikian tagline Sanggar DAUN yang telah mendampingi Annisa selama bertahun-tahun. Dan masa depan itu dimulai di sini. Ketika kita berhenti menafsir anak, dan mulai membaca catatannya dengan sungguh-sungguh.

Silakan masuk ke Galeri Merah Putih Surabaya. Bacalah pelan-pelan. Karena di dalam _Catatan Visual_, mungkin ada juga bagian dari diri kita yang selama ini belum punya nama.

Salam Budaya!

Gresik, 4 September 2026

Arik S. Wartono
Kurator, Pendiri dan Pembina Sanggar DAUN

Previous Post

Istimewa !! Siswa Kelas 1A MIN 2 Gresik Sukses Launching Buku Berjudul “Cita-citaku Goresan Mimpi”

Telisik Hati

Telisik Hati

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara

Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara

4 September 2026
Istimewa !! Siswa Kelas 1A MIN 2 Gresik Sukses Launching Buku Berjudul “Cita-citaku Goresan Mimpi”

Istimewa !! Siswa Kelas 1A MIN 2 Gresik Sukses Launching Buku Berjudul “Cita-citaku Goresan Mimpi”

4 September 2026
Dua Atlet Taekwondo MIN 1 Gresik Tampil Dominan, Sabet Emas dan Perak di Piala Gubernur Jatim 2026

Dua Atlet Taekwondo MIN 1 Gresik Tampil Dominan, Sabet Emas dan Perak di Piala Gubernur Jatim 2026

4 September 2026
Pelantikan Pengurus OSIM MTsN Gresik Periode 2026-2027, Siap Hadirkan Program Kreatif dan Menantang

Pelantikan Pengurus OSIM MTsN Gresik Periode 2026-2027, Siap Hadirkan Program Kreatif dan Menantang

4 September 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Resmi Dikukuhkan UNESA, S Hariyanto Jadi Kepala Dinas Pendidikan Pertama di Kabupaten Gresik Bergelar Doktor Predikat Cumlaude

Resmi Dikukuhkan UNESA, S Hariyanto Jadi Kepala Dinas Pendidikan Pertama di Kabupaten Gresik Bergelar Doktor Predikat Cumlaude

20 January 2025
Cari Rumput, Warga Masangan Temukan Kerangka Manusia di Area Bukit Jamur Bungah

Cari Rumput, Warga Masangan Temukan Kerangka Manusia di Area Bukit Jamur Bungah

3 January 2025
Subhanallah, Ribuan Pentakziah Menjadi Saksi Langit Mendadak Mendung Saat Prosesi Pemakaman Pemangku Pondok Al Ishlah Bungah KH Ahmad Thohawi Hadin

Subhanallah, Ribuan Pentakziah Menjadi Saksi Langit Mendadak Mendung Saat Prosesi Pemakaman Pemangku Pondok Al Ishlah Bungah KH Ahmad Thohawi Hadin

14 September 2023
Kapolres Gresik Gempur Judi Online, Belasan Pelaku Berhasil Diamankan Tanpa Perlawanan !!

Kapolres Gresik Gempur Judi Online, Belasan Pelaku Berhasil Diamankan Tanpa Perlawanan !!

13 December 2024
IKHTIAR BASMI PANDEMI! MONGGO BERJEMUR DI WISATA SETIGI SEKALIGUS VAKSINASI GRATIS‼️

IKHTIAR BASMI PANDEMI! MONGGO BERJEMUR DI WISATA SETIGI SEKALIGUS VAKSINASI GRATIS‼️

3
Perempuan Tangguh Wabup Ning Min Hadiri Silaturahim & Temu NU se-Dunia di Mekkah Saudi Arabia

Perempuan Tangguh Wabup Ning Min Hadiri Silaturahim & Temu NU se-Dunia di Mekkah Saudi Arabia

2
PROGRAM TERNAK DESA SEJAHTERA NH ZAKATKITA MEMBAWA BERKAH BAGI KAUM DHUAFA

PROGRAM TERNAK DESA SEJAHTERA NH ZAKATKITA MEMBAWA BERKAH BAGI KAUM DHUAFA

1
Bersama Ustadz Budi Setya, M.PSDM, Maskumambang Sukses Gelar Pembinaan Character Building

Bersama Ustadz Budi Setya, M.PSDM, Maskumambang Sukses Gelar Pembinaan Character Building

1
Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara

Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara

4 September 2026
Istimewa !! Siswa Kelas 1A MIN 2 Gresik Sukses Launching Buku Berjudul “Cita-citaku Goresan Mimpi”

Istimewa !! Siswa Kelas 1A MIN 2 Gresik Sukses Launching Buku Berjudul “Cita-citaku Goresan Mimpi”

4 September 2026
Dua Atlet Taekwondo MIN 1 Gresik Tampil Dominan, Sabet Emas dan Perak di Piala Gubernur Jatim 2026

Dua Atlet Taekwondo MIN 1 Gresik Tampil Dominan, Sabet Emas dan Perak di Piala Gubernur Jatim 2026

4 September 2026
Pelantikan Pengurus OSIM MTsN Gresik Periode 2026-2027, Siap Hadirkan Program Kreatif dan Menantang

Pelantikan Pengurus OSIM MTsN Gresik Periode 2026-2027, Siap Hadirkan Program Kreatif dan Menantang

4 September 2026
Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara

Yang Lebih Keras Dari Teriak: Catatan Visual Annisa Nismara

4 September 2026
Istimewa !! Siswa Kelas 1A MIN 2 Gresik Sukses Launching Buku Berjudul “Cita-citaku Goresan Mimpi”

Istimewa !! Siswa Kelas 1A MIN 2 Gresik Sukses Launching Buku Berjudul “Cita-citaku Goresan Mimpi”

4 September 2026
Dua Atlet Taekwondo MIN 1 Gresik Tampil Dominan, Sabet Emas dan Perak di Piala Gubernur Jatim 2026

Dua Atlet Taekwondo MIN 1 Gresik Tampil Dominan, Sabet Emas dan Perak di Piala Gubernur Jatim 2026

4 September 2026
Pelantikan Pengurus OSIM MTsN Gresik Periode 2026-2027, Siap Hadirkan Program Kreatif dan Menantang

Pelantikan Pengurus OSIM MTsN Gresik Periode 2026-2027, Siap Hadirkan Program Kreatif dan Menantang

4 September 2026
Gagas Karya Tulis Kesehatan, Siswi MAN 2 Gresik bawa pulang Trofi Utama Jambore UKS

Gagas Karya Tulis Kesehatan, Siswi MAN 2 Gresik bawa pulang Trofi Utama Jambore UKS

4 September 2026
Inilah Angelia, Siswi MAN 1 Gresik Sukses Raih Bronze Medali Lomba Karya Tulis Esai Tingkat Nasional

Inilah Angelia, Siswi MAN 1 Gresik Sukses Raih Bronze Medali Lomba Karya Tulis Esai Tingkat Nasional

4 September 2026

Bumi Nusantara News

© 2023 Buminusantaranews.com.

Navigate Site

  • Beranda
  • Hubungi Kami
  • Info Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik 
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Birokrasi
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Kesehatan
  • Sosial Politik
  • Serba Serbi
  • Potret Desa
  • Seni & Budaya
  • Wisata

© 2023 Buminusantaranews.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In