BN News – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, secara resmi membuka kegiatan Temu Konsultasi Pencegahan Konflik Paham Keagamaan yang diselenggarakan oleh Bidang Urusan Agama Islam bertempat di Prime Biz Hotel Surabaya, Senin (25/8/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dalam bidang keagamaan, antara lain:
1. Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Prov. Jatim
2. Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam Direktorat Urusan Agama Islam Kemenag RI
3. Ketua Tim Bina Paham Keagamaan dan Kepustakaan Islam
4. Seluruh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas Islam) se-Jawa Timur
Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama masing-masing. Hal ini, menurut beliau, menjadi kunci utama dalam mencegah munculnya konflik antar paham keagamaan yang bisa berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas.
“Penting bagi setiap pemeluk agama untuk memahami agamanya dengan baik. Ketidakpahaman kerap menjadi pemicu utama kesalahpahaman dan konflik,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta dan masyarakat luas untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai saling memahami, menghargai, dan menghormati antar umat beragama.
“Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Karena itu, menjaga harmoni dan toleransi antar umat beragama adalah tugas bersama. Mari kita jaga kebaikan-kebaikan, karena dengan itulah kita bisa menghindari potensi konflik,” lanjutnya.
Lebih jauh, Kakanwil juga menyampaikan bahwa sumber konflik seringkali bukan hanya berasal dari perbedaan ajaran, tetapi juga dari kondisi hati dan pola pikir manusia. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga ketulusan hati dan kejernihan pikiran dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat.
“Menata hati adalah langkah awal mencegah konflik. Hati yang bersih akan melahirkan pikiran yang jernih, dan dari situlah muncul sikap bijak dalam menyikapi perbedaan,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah konsultasi strategis dalam upaya membangun pemahaman dan sinergi di antara para pemangku kepentingan keagamaan, sehingga tercipta kondisi masyarakat yang rukun dan damai di Jawa Timur khususnya, dan Indonesia pada umumnya. (Kemenag Jatim/Telisik Hati)
















