Banyuwangi, BN News – Kepala Kantor Wilayah (kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur (Kemenag Jatim), Akhmad Sruji Bahtiar, meresmikan Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, Rumah Tahfidz, dan Majelis Lansia di Aula Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (30/7). Menurutnya, keberadaan Rumah Tahfidz memiliki peran strategis sebagai tempat menjaga, mempelajari, dan mengamalkan Kalamullah sekaligus membentuk generasi Qurani yang berkarakter.
Turut hadir dalam peresmian tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Ketua Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, para sesepuh, alim ulama, kiai, ustaz dan ustazah, Kepala BPJS Kabupaten Banyuwangi, Camat Tegalsari Nanang, Kepala KUA Tegalsari, Kepala Desa Tegalsari, Kepala MAN 4 Banyuwangi, Kepala MTsN 2 Banyuwangi, serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Kakanwil bahwa setiap manusia memiliki amanah sebagai ‘abdullah (hamba Allah) yang saleh sekaligus khalifatullah (pemimpin di muka bumi) yang membawa manfaat bagi sesama. Karena itu, keberadaan yayasan dan Rumah Tahfidz merupakan ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi yang unggul secara intelektual maupun spiritual.
“Tugas kita di dunia ini adalah menjadi ‘abdullah yang saleh dan khalifatullah yang memberi manfaat. Kehadiran yayasan dan Rumah Tahfidz ini merupakan ikhtiar bersama untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat akidahnya, mulia akhlaknya, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan generasi penerus agar tidak mewarisi berbagai kelemahan yang dapat menghambat kemajuan umat.
“Kita harus memiliki rasa takut terhadap generasi yang akan kita tinggalkan. Jangan sampai mereka lemah akidahnya, lemah ekonominya, dan lemah akhlaknya. Kehadiran Rumah Tahfidz ini menjadi salah satu ikhtiar nyata untuk menjaga Kalamullah sekaligus memperkuat fondasi keimanan generasi penerus,” tegasnya.
Selain meresmikan Rumah Tahfidz, Kakanwil juga mengapresiasi berdirinya Majelis Lansia. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa proses menuntut ilmu agama berlangsung sepanjang hayat tanpa mengenal batas usia.
“Menuntut ilmu tidak mengenal usia, dimulai sejak lahir hingga ke liang lahat. Oleh karena itu, semangat belajar harus terus dijaga agar ilmu yang diperoleh menjadi bekal dalam menjalani kehidupan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pesannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa membiasakan membaca dan menghafal Al-Qur’an tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental dan daya ingat. Interaksi yang intens dengan Al-Qur’an, menurutnya, mampu memperkuat kemampuan mengingat sekaligus menghadirkan ketenangan hati.
Kakanwil berharap peresmian Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, Rumah Tahfidz, dan Majelis Lansia menjadi tonggak lahirnya pusat pembinaan umat yang mampu melahirkan generasi Qurani, memperkuat syiar Islam, serta menjadi ruang pembelajaran agama bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia. Sinergi antara pemerintah, yayasan, ulama, dan masyarakat diharapkan terus terjalin dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis dan berkualitas.
Melalui peresmian tersebut, ia juga menegaskan komitmen Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur yang terus mendukung penguatan lembaga pendidikan keagamaan sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang religius, berkarakter, serta melahirkan generasi yang berakhlakul karimah, mencintai Al-Qur’an, dan siap menghadapi tantangan zaman. (*)
















