Oleh: Arik S. Wartono
GRESIK, BN News – Selama 19 tahun ARTJOG jadi rumah besar Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Publik datang bukan cuma untuk lihat karya. Mereka datang untuk membeli sesuatu yang tak terlihat: pengalaman, identitas, makna, rasa bangga jadi bagian dari percakapan seni yang dianggap jujur. Itulah nilai simbolik yang selama ini dijual ARTJOG.
Blunder ARTJOG 2026 bukan di teknis pameran. Tragedi paling mahal ada di satu titik: Heri Pemad_ CEO ARTJOG_ gagal memahami realitas hari ini. Gagal empati. Dan kegagalan empati dalam bisnis budaya itu sama fatalnya dengan kegagalan Ferrari memahami pelanggannya.
1. Pelajaran dari Ferrari Luce, Nokia, dan Kodak
Ferrari, pada 25 Mei 2026 meluncurkan Luce, mobil listrik hasil kolaborasi Jony Ive dan Marc Newson. Desainnya bersih, elegan, minimalis. Kompetensi desainernya tak diragukan. Tapi nilai saham Ferrari menguap miliaran dolar. Mengapa? Karena pelanggan Ferrari tidak beli mobil. Mereka beli sensasi, raungan mesin, gejolak emosi sebelum kunci diputar, mobil dinyalakan. Luce mungkin mobil hebat, tapi ia memotong kabel emosi yang selama ini membuat orang rela bayar miliaran.
ARTJOG 2026 melakukan kesalahan yang sama. Publik seni rupa tidak beli lukisan atau instalasi sebagai barang. Mereka “beli” perasaan: bahwa ruang ini masih merdeka, masih kritis, masih bisa dipercaya, dan itu bernilai investasi. Ketika narasi kuratorial ndakik-ndakik bawa-bawa David Graeber, tapi di saat yang sama penopang sumber dana bersinggungan langsung dengan oligarki politik, maka kabel emosi itu putus.
Sama seperti Nokia yang yakin pasarnya loyal sampai iPhone datang, sama seperti Kodak yang mengira orang tetap suka kamera film analog dan semua produk turunannya. ARTJOG yakin publik akan tetap datang karena sudah 19 tahun. Padahal pasar budaya itu cair. Hari ini kecewa ke ARTJOG, besok bisa pindah ke ARTSUBS atau ruang alternatif lain yang lebih masuk akal.
2. Apa Sebenarnya yang “Dibeli” Publik dari ARTJOG?
Bukan karya akhir. Bukan katalog. Bukan selfie di Jogja National Museum.
Yang dibeli publik adalah:
– *Identitas*: merasa jadi bagian dari komunitas seni yang waras.
– *Pengalaman*: ruang untuk berpikir, bukan sekadar ruang pamer mahal.
– *Kepercayaan*: bahwa kurator dan manajemen memahami konteks sosial-politik, bukan asal jalan.
ARTJOG sukses besar ketika publik percaya hal itu. Karena percaya, kolektor mau keluar duit miliaran. Museum luar negeri mau titip kurasi. Itu modal simbolik yang jauh lebih mahal dari sponsor.
Blunder 2026 adalah ketika modal itu dibakar demi kelancaran logistik. Heri Pemad dan Farah Wardani_ kurator ARTJOG 2026_ gagal membaca: Publik sebenarnya tidak anti pasar, publik jelas paham seni butuh duit. Tapi publik juga punya batas. Mereka tidak mau disodori narasi Graeber sambil diminta tepuk tangan untuk sumber dana yang bertentangan langsung dengan semangat Graeber.
3. Seniman Juga Korban: Terperangkap dalam Artwashing
Ada satu pihak yang paling dirugikan tapi paling jarang dibela: para seniman yang karyanya dipajang di ARTJOG 2026.
Mereka diajak masuk dengan narasi besar: “ARS LONGA GENERATIO”, wacana kritis, rujukan David Graeber, janji ruang yang berpihak. Banyak dari mereka percaya. Bagi seniman muda, undangan ARTJOG adalah pengakuan. Bagi yang senior, ini panggung untuk bicara ke publik lebih luas.
Tapi yang terjadi: mereka dijadikan peraga dalam pertunjukan artwashing. Manajemen ARTJOG menjual narasi progresif ke publik, menjual citra kritis ke sponsor, lalu meletakkan karya seniman di tengah kontradiksi itu. Seniman tidak dilibatkan dalam keputusan pendanaan. Mereka tidak diberi ruang untuk menolak ketika narasi kuratorial tabrakan dengan sumber daya.
Akibatnya? Nama seniman ikut terlempar ke dalam label “penopang artwashing”. Padahal mereka hanya datang membawa karya, dengan harapan yang wajar: karyanya dilihat, dibaca, didiskusikan. Yang diuntungkan tetap pihak penyelenggara: citra acara tetap megah, laporan ke sponsor tetap rapi. Seniman? Mereka yang menanggung risiko reputasi ketika publik mulai bertanya: “Kamu ikut main dalam sandiwara itu juga ya?”
Ini hipokrisi tingkat lanjut: membuat seniman membayar harga moral atas keputusan yang bukan mereka buat.
4. Menjawab Argumentasi “Yang Penting Pasar Jalan”
Ada suara yang bilang: dalam dunia pasar, uang itu netral. Bank Vatikan, IMF, Ford Foundation, CSR Freeport, semua sama. Yang penting acara jalan, seniman kebagian honor, citra kota terbangun. Tuduh orang protes sebagai “mental gratisan” atau “idiot” yang tidak paham ekonomi kebudayaan.
Saya tidak setuju. Karena ada satu hal yang argumen itu lupakan: moralitas.
Dalam kewarasan berpikir, harta punya kategori: halal, haram, subhat. Fakta bahwa semua orang mungkin pernah makan yang subhat, tidak menghapus kategorinya. Fakta bahwa maling ada di mana-mana, tidak membuat “mencuri itu salah” jadi tidak berlaku.
Seni punya moralitasnya sendiri. Fungsi seni bukan jadi ujung tombak perubahan politik. Sejak abad ke-14 Ibnu Khaldun sudah menulis, perubahan lahir dari solidaritas sosial. Paulo Freire menulis ulang sebagai “kaum tertindas”, Karl Marx menulis lagi dengan “kelas pekerja”, ujungnya sama yakni perubahan lahir dari Solidaritas Sosial. Seni tugasnya menyalakan nurani agar solidaritas itu mewujud. Ketika seni justru menormalisasi hipokrisi – menjual wacana kritis sambil bergantung pada patronase yang bertentangan – maka ia bukan lagi menyalakan nurani. Ia memadamkannya.
Menyebut sesama pelaku seni “idiot” karena menuntut konsistensi, bukan argumen ekonomi. Itu kelelahan berpikir.
5. Jantung ARTJOG Ada di Kepercayaan, Bukan di Sponsorship
Kritik “artwashing” memang mudah didebat. Manajemen bisa jawab: semua festival juga begitu. Tapi yang paling ditakutkan ARTJOG bukan tuduhan artwashing. Yang paling ditakutkan adalah pasarnya gembos.
Dan pasar akan gembos ketika publik merasa: “Oh, jadi selama ini kita cuma dibeli pakai jargon.”
ARTJOG bisa lolos dari kasus Freeport 2016 karena narasinya waktu itu tidak menampar wajah donatur. 2026 berbeda. Kontradiksinya telanjang. Dan publik seni rupa Indonesia hari ini sudah terlalu melek untuk pura-pura tidak lihat.
Penutup
Heri Pemad menyadari betul, semua kritik terhadap ARTJOG 2026 perhitungan dia hanya akan seputar moralitas dan artwashing, dengan kecenderungan narasi anti pasar.
Padahal yang paling ditakutkan ARJOG bukan itu. Asalkan pasar mereka tetap jalan, semua kritik itu tidak akan digubris oleh Heri Pemad dan seluruh penasehat bisnisnya.
Padahal, publik sebenarnya tidak anti pasar, justru banyak yang membela pasar, mengapresiasi, dan berusaha memahami apa yang sebenarnya meraka “beli” dari ARTJOG.
Publik seni rupa kontemporer Indonesia sebenarnya sudah membaca dengan sangat jelas mengapa tahun lalu ARTJOG bikin di Surabaya
Tentu saja itu semua urusan pasar, yang sebagian mulai diambil alih oleh ARTSUBS. ARTJOG bikin di Surabaya tentu menjadi penegasan tentang eksistensinya.
Kali ini, justru pasar itulah yang gagal dipahami oleh Heri Pemad, tentang mengapa publik mau datang melihat perhelatan ARTJOG, dan para kolektor mau membeli karya-karya seniman yang sedang dan pernah ditampilkan dalam perhelatan ARTJOG, termasuk mengapa para kolektor dan museum kelas kakap di luar negeri mau memberi kepercayaan kepada beberapa pelaku manajemen ARTJOG untuk mencarikan karya-karya seniman berpengaruh untuk menjadi koleksinya. Mereka mempercayai ARTJOG dan manajemennya, itu sebabnya rela keluar duit milyaran bahkan trilyunan untuk mereka. Tapi justru inilah blainspot Heri Pemad.
Dan ketika pada saatnya nanti publik memahami semua ini cuma jualan yang tidak ada kaitannya samasekali dengan kebutuhan mereka, seperti halnya pelanggan Ferrari disodori Ferrari Luce, maka ARTJOG akan menemukan nasibnya seperti Ferrari, bahkan seperti Nokia dan Kodak.
Publik semakin cerdas: Bongkar celah pasar ARTJOG. Karena itu jantung pertahanannya. Segala opini tingkat tinggi tentang independensi seniman, politisasi budaya, artwashing dan degradasi estetika, tidak akan pernah menggoyang ARTJOG jika tidak menyentuh rasa takut paling dasar: kehilangan kepercayaan publik (pasar) – termasuk kepercayaan para seniman yang selama ini jadi tulang punggung acaranya.
Ferrari bisa ganti strategi. Nokia bisa bangkit di segmen lain. Tapi reputasi budaya yang runtuh karena dianggap munafik, sulit sekali dibangun lagi.
Ngono yo ngono, ning ojo ngono. ARTJOG masih punya waktu untuk koreksi: akui kontradiksi, revisi narasi, minta maaf ke publik dan ke seniman yang sudah terlanjur jadi korban. Sebelum publik benar-benar pindah, dan ARTJOG menemukan nasibnya seperti Ferrari Luce: indah di foto, tapi sepi di garasi.
Justru dalam hal inilah sesungguhnya Heri Pemad lengah. Sudah banyak pihak yang melihat tentang blunder strateginya kali ini hanya demi menyedot perhatian publik, dan keruntuhan ARTJOG sebenarnya sudah di depan mata, kita lihat saja nanti.
Gresik, 23 Juni 2026
Arik S. Wartono adalah pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik
















