GRESIK, BN News — Kabupaten Gresik kembali mencatatkan prestasi gemilang di panggung ekonomi syariah tingkat Regional Jawa. Dalam ajang bergengsi Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 yang berlangsung di Grand City Convention & Exhibition Surabaya, 25–27 September 2026, Gresik sukses meraih Juara 2 Kategori Wakaf Produktif.
Tak hanya itu, Kabupaten Gresik juga meraih 3 Penghargaan lainnya di ajang Prestisius tersebut, yakni Juara 1 Kategori Pengembangan Ekonomi Pesantren, Juara 2 Pertumbuhan Pelaku Usaha Bersertifikasi Halal, serta Juara 2 Kategori Nilai Ekspor Halal.
Empat penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa Gresik tak hanya dikenal sebagai Kota Industri, melainkan juga pusat pengembangan ekonomi syariah yang kokoh dan berkelanjutan.
Menariknya, terkait Kabupaten Gresik berhasil meraih Juara 2 Kategori Wakaf Produktif ini tak lepas dari kerja keras Penyelenggara Zakat dan Wakaf (Penzawa) Kemenag Gresik. Sebab, selama ini Penzawa Kemenag Gresik yang dipimpin oleh Hj. Nelly Afroh, S.Sos., M.Pd.I., terus menjalin sinergi berkelanjutan antara pemerintah daerah, Kemenag, Baznas, lembaga wakaf, dunia usaha, dan masyarakat demi mengoptimalkan zakat dan wakaf.
Lebih lanjut Kasi Penzawa Kemenag Gresik menandaskan, Kabupaten Gresik sukses meraih Juara 2 Kategori Wakaf Produktif, dengan penilaian tinggi atas:
– Pengelolaan aset wakaf yang tidak hanya dijaga, tetapi dikembangkan menjadi sumber pendapatan tetap
– Sinergi antara Baznas Gresik, Kemenag, lembaga pengelola wakaf, dan masyarakat
– Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan yang menjadi teladan
– Manfaat yang dirasakan langsung untuk pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi warga
“Keberhasilan ini mengingatkan kita: agama dan ekonomi bukan dua hal yang terpisah. Ketika keduanya bersinergi atas dasar keikhlasan, kejujuran, dan tanggung jawab, maka berkah itu akan turun dan dirasakan bersama,” tegas Hj. Nelly Afroh, S.Sos., M.Pd.I., Selasa (29/9/2026).
Sementara Ketua Baznas Kabupaten Gresik, H Muhammad Mujib, M.Pd.I menambahkan, zakat, infak, dan wakaf bukan sekadar sumbangan — ini adalah instrumen perubahan nasib. Gresik membuktikan: kita bisa keluar dari ketergantungan bantuan, berdiri di atas kaki sendiri, dan menolong sesama dari kemandirian yang kita bangun bersama.
“Wakaf itu hidup, bukan diam — Aset umat yang dikelola produktif akan terus memberi manfaat tanpa henti. Kini Gresik memikul tanggung jawab baru: menjadi teladan bagi daerah lain. Langkah ke depan? Memperluas jangkauan pendampingan, mendorong lebih banyak pesantren mandiri, menghidupkan lebih banyak aset wakaf, dan memastikan pertumbuhan ekonomi Gresik yang pesat — baik industri maupun berbasis syariah — benar-benar menyentuh setiap lapisan masyarakat,” jelasnya.
“Berkah bukan diwariskan, tetapi diperjuangkan bersama. Gresik membuktikannya. Wakaf produktif yang dikelola dengan baik dapat terus mengalirkan kebaikan — bukan untuk satu generasi, melainkan untuk generasi-generasi mendatang,” imbuh H. Mujib.
Untuk diketahui,
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa di Grand City Convex Surabaya, Sabtu (26/9/2026).
FESyar Jawa 2026 menghadirkan 312 stan pameran. Kegiatan yang berlangsung secara hibrida hingga 27 September tersebut, menjadi bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 pada Oktober 2026 di Jakarta.
Melalui forum, pameran, dan kompetisi, FESyar mempertemukan pelaku usaha, lembaga keuangan, pesantren, pemerintah, serta berbagai mitra untuk memperkuat ekonomi dan keuangan syariah.
Destry mengatakan, Jatim dipilih sebagai tuan rumah karena potensinya sebagai barometer ekonomi syariah nasional. Jatim juga memiliki 97,33% penduduk muslim dan 7.347 pesantren. Tak hanya itu, Surabaya memiliki sejarah penting sebagai lokasi pertama penyelenggaraan ISEF pada 2014.
“FESyar ini sudah 13 kali diselenggarakan dan tidak pernah bergeser dari Jatim. Kita tidak bisa berpindah ke lain hati, karena nama Festival Ekonomi Keuangan Syariah itu sudah dipatenkan Jatim 13 tahun lalu,” katanya.
Destry melihat acara ini bagus sekali dan sangat cocok dengan Indonesia, karena mempunyai potensi yang sangat besar dengan muslim yang sangat besar pula.
“Kami berpikir tidak cukup kalau hanya di regional sehingga FESyar ini kami bawa ke level pusat. Tapi idenya ada di sini, sehingga FESyar Jawa akan selalu ada di Jawa Timur,” ucapnya.
Sementara itu Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menekankan provinsi yang dipimpinnya memiliki modal kuat untuk mengembangkan industri halal.
Menurutnya, penguatan ekosistem dari produksi hingga pemasaran perlu terus dilakukan, agar semakin banyak produk Jatim mampu menjangkau pasar global.
“Kekuatan ekosistem halal Jatim terus berkembang. Untuk sekarang, kita sudah punya 22 Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat atau KHAS, 804 destinasi pariwisata ramah muslim, serta 56 sentra dan kawasan halal. Insyaallah ini akan selalu kita kembangkan lebih jauh,” paparnya.
Perkembangan itu juga terlihat dari sertifikasi halal. Hingga Agustus 2026, sebanyak 703.853 sertifikat halal telah diterbitkan di Jatim, mencakup sekitar 1,8 juta produk.
Khofifah berharap ini menjadi modal untuk memperkuat kepercayaan konsumen, meningkatkan daya saing produk Jatim, sekaligus membuka akses pasar bagi pelaku usaha.
“Penguatan ekosistem halal juga berjalan seiring dengan penguatan sektor keuangan syariah. Nilai aset perbankan syariah di Jatim mencapai Rp 937,13 triliun dengan Dana Pihak Ketiga sebesar Rp 857,63 triliun,” terangnya.
Karena itu, FESyar harus menjadi tempat lahirnya kerja sama yang terus berlanjut bahkan setelah festival ini selesai. Sebab, kesuksesannya dilihat dari long lasting impact yang dirasakan masyarakat. (*)
















