*DARI RUANG KELAS 55*
Sebuah catatan pembelajaran seorang guru
Oleh : Anang Prasetyo
Alkisah di tahun 2015.
Pagi hari sekitar jam 08 WIB. Hangatnya matahari pagi sedang menggeliat semangat. Baru saja anak – anak itu saya perintahkan menggambar. Ya menggambar. Ibunya seni rupa, kata Mikke Susanto di buku Diksi Rupa.
Sebagaimana kebiasaan anak – anak di kelas yang lain, gambar yang sudah jadi itu selain disetip ( dihapus) gambarnya, juga ditutupi dengan tangannya.
Malu, jelek, katanya. Malu juga kalau dilihat orang lain.
Sejurus kemudian saya setelkan musik instrumentalia pelan. Sound speaker yang saya siapkan sejak dari rumah mengalir lembut.
Membuat syahdunya ruangan kelas 55 itu menjadi mendayu – dayu.
Ya ruang 55 adalah salah ruang kelas di sekolah saya mengajar, SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Jawa Timur. Itulah ruang kelas yang memiliki aura magis spiritualis yang kelak menjadi inspirasi banyak murid.
Anak – anak itupun terhanyut. ‘Pak ngantuk’ kata sebagian mereka. Saya tersenyum. Sebab demikianlah. Jika memahami urutan neurologi, setelah beta, alpa, teta lalu ke gelombang otak delta. Gelombag otak tidur.
Kebiasaan menyetel musik pelan adalah kebiasaan lama saya. Utamanya saat diminta menjadi kepala SDI Insan Kamil Tuban. Sound saya pasang diseluruh ruang di sekolah. Indoor dan outdoor.
Disekolah itulah , dimana antara perjuangan pendidikan dan dakwah itu menyatu menjadi satu kesatuan.
Sehingga siapapun yang mendengarkan musik instrumental pelan dan terkadang suara kicau burung dari tape kuno itu pasti terdengar nyaman. Rileks dan tenang.
Saat anak – anak mulai merasakan alunan nada musik pelan, yang mana tempo musiknya yang ritmis menghantarkan kepada gelombang otak alfa. Disitulah saya tiba – tiba reflek saja memerintahkan anak – anak itu memejamkan mata. Mereka saya ajak untuk relaksasi.
Sebuah teknik yang saya peroleh saat berlatih pernafasan tenaga dalam disaat masih kuliah dulu.
Komando itu memang dari saya, tapi mereka sudah saya beritahu bahwa yang menjadi pemerintah utama, adalah diri anak – anak sendiri.
Bukan saya. Sebab, bukankah mereka adalah makhluq Tuhan yang independen sebagai individu dan pribadi.
Mereka tentu bebas merdeka . Merdeka berfikir, merdeka berkreasi dan berimajinasi. Merdeka pula dalam mengembangkan intuisinya.
Setelah relaksasi dari kepala hingga tangan dan hingga ke kaki dengan mengatakan ‘ wahai tanganku rilekslah – santailah – tenanglah’. Secara berulang – ulang.
Saat itulah, dimana anak sudah dalam kondisi rileks dan nyaman, saya meminta kepada mereka untuk membayangkan. Ya menghadirkan kisah yang membahagiakan, yang pernah terjadi dalam dirinya.
Satu saja pengalaman bahagia , kata saya !.
Fokus hanya pada satu peristiwa dan pengalaman hidup yang membuat bahagia, senang, riang dan gembira.
Pada akhirnya adalah tatkala anak – anak itu saya ajak mensyukuri nikmat bahagia dalam perjalanan hidupnya.
Bersyukur karena Tuhan Sang Pencipta itu menaqdirkan kisah bahagia dalam hidupnya.
Ketika kemudian mereka saya instruksikan untuk nantinya digambar di atas kertas. Apa yang sudah dilihat secara metavisual itu, dan mereka alami, untuk kemudian dipindahkan atau ditransver secara visual, berupa gambar di atas buku diarynya, dengan media bolpen. Ya bolpen. Bukan pensil. Demi melatih kepercayaan dirinya !.
Sesaat kemudian saya hitung satu sampai dengan lima untuk membuka mata, kemudian menggambarkan apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan dan apa yang dia alami.
Disitulah ternyata rahasianya. Gambar anak – anak menjadi lebih ekspresif.
Jiwo nya menjadi ketok. Jiwanya nampak terlihat. Demikian maestro pelukis nasional Indonesia S Soedjoyono mengatakan.
Terlebih disaat menggambar itu anak – anak tidak boleh memakai pensil, tapi memakai bollpen, untuk menjawab persoalan anak – anak yang memiliki kebiasaan menyetap – nyetip ( kebiasaan menghapus) gambar yang ia buat.
Pun demikian saya beri mereka motivasi dengan afirmasi positif. Bahwa kamu bisa menggambar. Gambarmu bagus. Aku bisa menggambar ! Gambarku bagus !!!
Demikian saya lakukan berulang – ulang.
Alhamdulillah gambar anak – anak memang terlihat lebih ekspresif. Yak Bagus ! Seperti kebiasaan almarhum pak Tino Sidin.
Dan ternyata, masing – masing memiliki ciri khas yang unik dan karakter garis yang berbeda. Tentu dengan kisah yang pasti berbeda pula.
Bukankah inilah fitrahnya. Persis sebagaimana berbedanya mereka diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kreatif. Tak ada satupun makhluq ciptaan Nya yang sama di seluruh alam semesta. Yang ada haya mirip belaka.
Memasuki tahun 2016..
Saya teringat dengan maqolah Sayyidina Ali ‘ yang menyatakan Ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Akhirnya dari ruang kelas 55 SMKN 1 Boyolangu Tulungagung itu, apa yang saya dapati dalam.pembelajaran lantas saya bukukan. Saya studi literatur yang mendukung pembelajaran itu. Termasuk saya mencari istilah yang mudah dicerna.
Jadilah ia bagian dari 5 buku yang saya tulis dan di terbitkan Penerbit Paramarta di tahun 2016 itu. Judulnya Menggambar dengan Memori Bahagia. Walhasil 5 buku itu terbit bersamaan. Sampai hari belum terkenal juga hahahaa.
Saya juga teringat dengan wejangan Prof Hamid Fahmiy Zarkasy. Bahwa ilmu itu harus diamalkan. Amal harus disertai dengan iman pula.
Sehingga trilogi ilmu – amal – iman adalah satu kesatuan selayaknya senjata trisula.
Akhirnya bersama Komunitas Padhang Njingglang ( KOMPAN) dan murid – murid SMKN 1 Boyolangu di tahun 2021 – 2022 , buku tersebut saya workshopkan.
Saya berkeliling di 33 titik desa – desa di Kabupaten Tulungagung.
Itu belum terhitung workshop AMB Aktivasi Memori Bahagia atau Menggambar Kebahagiaan di luar kota Tulungagung.
Pertama kali training itu diselenggarakan di kota Batu, lalu Bojonegoro, Surabaya, Kediri, Tuban, dan Yogyakarta.
Metodologi Menggambar dengan Memori Bahagia tak pelak menambah teknik pembelajaran di KOMPAN ( sebuah komunitas kecil sebagai kepanjangan dari Komunitas Padhang Njingglang).
Biasanya memakai strategi pembelajaran BCMK ( Bermain Cerita Menyanyi dan Kreasi.
*Tahun 2023*
Siapa menyangka buku tipis itu mengulik dan menggelisahkan pemikiran pemilik Omah Mikir Batu. Dr Djuli Djatiprambudi. Pelukis yang juga kurator handal yang dimiliki seni rupa Indonesia. Beliau sekaligus sebagai akademikus seni rupa Unesa Surabaya.
Akhirnya terselenggaralah acara bedah buku dengan menghadirkan beberapa seniman dan guru serta dosen.
Salah satu peserta adalah mbak Lisa. Demikian saya memanggil beliau. Yang ternyata adalah dosen di senirupa Universitas Negeri Malang yang sedang menempuh program doktoral di Iniversitas Negeri Semarang.
Di tahun 2024 itulah beliau dengan didampingi suaminya, kemudian juga mengajak mahasiswanya mendatangi rumah saya di Desa Jepun Tulungagung, untuk mengambil data- data yang dibutuhkan demi dan dalam rangka menunjang penelitiannya.
Kini, tepat di hari pendidikan nasional dan hari menggambar nasional, metode menggambar AMB itu saya ajarkan lagi di kelas.
Maka sebelum saya akhiri, menggambar dan melukis kebahagiaan itu saya ujicobakan sekai lagi kepada murid – murid kami di semua kelas. Konsepnya adalah Sinergi Kebahagiaan. Yaitu satu kanvas dilukis oleh satu kelompok terdiri 9 sampai 25 siswa.
Apakah itu membahagiakannya ? Semoga.
Setidaknya bahwa kebahagiaan yang ia rasakan harus disinergikan dengan teman lainnya. Ya melukis bersama dalam satu kanvas.
Sebab , sebagaimana semboyan di pita Burung Garuda, Bhineka Tunggal Ika, mampukah kebhinekaan dalam kebahagiaan yang beragam itu mampu ditunggalkan atau di eka kan secara harmonis.
Disitu letak tantangannya.
Walhasil, sebagai penutup. Jika saya diberi ilham oleh Tuhan Alloh Yang Maha Indah itu , di suatu ruang kelas, ruang 55. Maka kesimpulannya adalah :
Jangan remehkan pembelajaran di dalam kelas !!!.
Sebab, disitulah terkadang Tuhan Sang Maha Pendidik itu , akan memberikan pencerahan Nya kepada kita. Guru, sang pendidik.
Kelak anak – anak yang kita didik itu menjadi generasi yang mendoakan dan mengingat – ingat ilmu dan pendidikan yang ia terima di dalam kelas atau di luar kelas.
Setujukah Anda ?
Yang jelas dan pasti.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Selamat pula
Hari Menggambar Nasional.
Semoga Alloh Tuhan Yang Maha Mendidik itu senantiasa mendidik kita , para guru dan murid – murid si peserta didik itu.
Aamiin
( Guru, Pelukis dan Penulis buku Menggambar Dengan Memori Bahagia)
















