GRESIK, BN News – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gresik menegaskan komitmennya terhadap pendidikan inklusif melalui diseminasi Program “Hatiku Padamu” (HTM) yang menyasar layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) di madrasah.
Sosialisasi Program HTM, yang merupakan layanan unggulan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lembaga Pelayanan ABK (LPABK) Kabupaten Gresik, dilaksanakan pada 7 Oktober 2025 dalam pertemuan Musyawarah Kerja Pengawas Madrasah (MKPM). Acara ini bertempat di Ruang Pengawas dan disampaikan oleh Pengawas Madrasah Kemenag Gresik, Musdalifah dan Nur Bayanah Ayukartika.
Diseminasi ini menjadi langkah krusial untuk mempererat kolaborasi antara Kemenag dan LPABK di bawah Dinas Pendidikan, sekaligus merespons urgensi layanan ABK. Diperkirakan terdapat sekitar 5.000 anak PDPD di Gresik, dengan 60 madrasah di bawah Kemenag telah melayani siswa berkebutuhan khusus. Kemenag kini proaktif memastikan madrasah dan guru siap memberikan pendampingan yang sesuai.
Bagaimana Aksi Kemenag: Kemenag Gresik telah mendapatkan kuota 12 guru (dari RA hingga MA) untuk mengikuti bimbingan dan pelatihan Guru Pendamping Khusus (GPK) secara gratis dari LPABK. Guru yang terpilih harus memenuhi kriteria kesehatan fisik dan mental yang prima, diutamakan berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa atau Bimbingan Konseling.
Dampak Positif: Keberadaan GPK sangat vital, sebab mereka dilatih untuk:
1. Melakukan identifikasi dan observasi ABK.
2. Menyusun Perencanaan Pembelajaran Individual (PPI) yang merupakan inti 3. layanan personalisasi.
5. Mengisi Aplikasi Ladika sebagai basis data dan laporan.
6. Melakukan pengimbasan ilmu kepada guru lain.
Program HTM (“Antar Jemput dan Layanan Intervensi”) sendiri menjamin siswa PDPD yang didampingi GPK dapat memperoleh layanan intervensi terapi di LPABK dengan fasilitas antar jemput, dikoordinasi oleh Person In Charge (PCIC) wilayah.
Upaya ini merupakan implementasi nyata dari kewajiban negara untuk menjamin hak pendidikan bagi seluruh anak. Seperti ditegaskan dalam literatur, intervensi dini yang terstruktur dan terpadu sangat menentukan optimalisasi potensi anak berkebutuhan khusus (Heward, W. L. 2013. Exceptional Children: An Introduction to Special Education. New Jersey: Pearson Education, h. 34-36).
Kemenag Gresik berharap inisiatif ini dapat berjalan optimal, meskipun tantangan komunikasi antar GPK dan koordinator harus terus diperbaiki demi kelancaran layanan antar jemput. (Kemenag Gresik/Telisik Hati)
















