Penulis📚 Didik Hendri Telisik Hati
BN News.com – Jagad medsos (media sosial) kota santri Gresik beberapa hari ini dibikin ramai dengan perdebatan seru terkait hot topics “Kembalikan Wisuda hanya untuk yang lulus kuliah. TK, SD, SMP dan SMA tidak perlu Wisuda”.
Salah satu warganet dengan akun FB (Facebook) atas nama Ainnun Ainnun menyatakan keberatan adanya wisuda untuk TK – SMA. Sampai-sampai, siswa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) juga ikut diwisuda. ” Arek sak tumo (kecil sekali, Red) ae koq pakek diwisuda,” tulisnya dengan nada protes.
Tidak cukup sampai di situ, saking jengkelnya, Ainnun berujar jika biaya wisuda itu cukup mahal. Harus sewa baju, toga, rias, beli buket, foto-foto, dan lain-lain. “Kasihan, banyak orang tua yang menjerit, sampai cari utangan demi membayar biaya wisuda,” cetusnya tanpa tedeng aling-aling.
Tak mau kalah, akun atas nama Fiddunya Wal’akhiroh justru setuju dengan adanya acara wisuda untuk siswa TK – SMA. Ia melontarkan komentar: “Kasih kesan Abadi. Jika Anda keberatan ya cari sekolah yang tidak ada pemberlakuan cara gitu. Malah kalau bisa tiap ada momen ada foto sejarah dan kelak dewasa akan ada kebanggaan tersendiri. Apalagi jika ada rias, maka akan punya masa lalu dan sebagai bahan cerita untuk masa depan,”.
Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Gresik Hj. Aminatun Habibah, M.Pd yang sebelumnya telah malang melintang di dunia pendidikan, bahkan 12 tahun menjadi Kepala SMK Assa’adah Bungah (2008 – 2020) dengan tegas mengatakan, jauh sebelum jadi perdebatan yang memicu pro dan kontra, dirinya telah mengusulkan kepada Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Gresik untuk memberikan himbauan dan menyikapi secara bijak terkait masalah wisuda tersebut.

“Bahkan, saat saya menjadi kasek (kepala sekolah), saya tidak mengadakan wisuda. Namun, karena desakan anak-anak (para murid, Red) saya mengadakan dengan syarat tidak pakai toga. Saya sendiri yang istilahnya mewisuda juga hanya pakai baju batik biasa, tidak memakai pakaian kebesaran wisuda layaknya wisuda mahasiswa,” ucap wabup sambil mengenang saat dirinya menjadi Kepala SMK Assa’adah Ponpes Qomaruddin Bungah.

Ditambahkan Wabup, jadi waktu itu istilahnya bukan wisuda, tapi Purnawiyata, penanda anak-anak telah menyelesaikan pendidikan di SMK. Selanjutnya pihak sekolah menyerahkan anak-anak yang sudah dititipkan ke sekolah dikembalikan ke orang tuanya.

“Jadi bukan wisuda, tapi Tasyakuran Kelulusan dan Pelepasan para siswa untuk dikembalikan ke orang tuanya. Monggo, silakan dicek di jejak digital saya waktu acara kelulusan anak-anak. Acaranya sederhana, dilaksanakan di halaman sekolah dan tidak memakai pakaian wisuda, apalagi mengenakan Toga. Cukup mengenakan seragam sekolah,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Gresik H. Khoirul Huda, S.Ag dengan tegas menyatakan bahwa Wisuda itu hanya untuk mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliahnya. Arti dari wisuda itu dilakukan pada saat purna dari proses pendidikan jenjang mahasiswa. Jadi, selain itu mungkin cukup menggunakan istilah Tasyakuran atas Kelulusan TK SD SMP SMA dan sederajat.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kabupaten Gresik H. S. Hariyanto, S.Pd, MM menegaskan, jauh sebelum ada perdebatan di medsos terkait Wisuda TK SD SMP SMA, pihaknya telah mengirimkan Surat Himbauan kepada pimpinan lembaga pendidikan, baik negeri ataupun swasta.
Isi dari himbauan tersebut adalah: Berdasarkan Perda Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah disebutkan, jika orang tua siswa (komite sekolah) bersama pihak sekolah menginginkan mengadakan kegiatan Wisuda Purna Siswa, maka harus melalui musyawarah/rapat pihak sekolah dan orang tua siswa (komite sekolah).
“Kami juga mengimbau dilaksanakan secara sederhana, tidak memberatkan dalam hal pembiayaan dan sedapat mungkin dilaksanakan di lingkungan/halaman sekolah. Jadi intinya bukan wisuda, tapi Tasyakuran Kelulusan, Perpisahan, Pelepasan ataupun istilah lainnya. Dan banyak sekolah yang melaksanakan tanpa pakaian wisuda dan toga, hanya seragam sederhana warna putih,” ungkap Kadispendik.
Sementara Sekretaris Dispendik Gresik Herawan Eka Kusuma, SE, M.Si dengan lantang menegaskan Wisuda itu hanya untuk penanda kelulusan mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliah. Dan untuk pendidikan dasar tidak perlu seperti itu. Namun seiring waktu, karena masyarakat kita ini senang selfi dan foto-foto akhirnya muncul ide-ide seperti wisuda untuk SMA, SMP, SD, TK, bahkan PAUD.
“Intinya kami sudah menghimbau agar dibicarakan dengan komite sekolah agar tidak terjadi resistensi. Mungkin nanti akan kita kaji kembali untuk melarang saja jika dianggap banyak mudhorotnya. Jadi, sementara baru himbauan belum larangan, namun kalau hal ini semakin mengemuka bisa jadi larangan,” tegasnya serius. (Didik Hendri Telisik Hati)
















