Tanggapan untuk tulisan Ugo Untoro: “Menelusuri Jejak Roh Yang Hilang Dalam Seni Kontemporer Kita”
Oleh Arik S. Wartono
BN News – Tulisan Ugo Untoro tentang kehilangan ruh dalam seni kontemporer kita memang menyentuh titik sensitif. Namun, narasi yang dibangunnya cenderung menyederhanakan kompleksitas seni menjadi sekadar persoalan “ketelanjangan diri” dan kehilangan kemurnian. Apakah seni benar-benar hanya tentang itu?
Untoro mengkritik seni kontemporer sebagai karya yang kehilangan denyut darah dan tetesan keringat penciptanya, seolah-olah karya seni yang baik haruslah lahir dari penderitaan dan pengorbanan yang ekstrem. Padahal, sejarah seni telah membuktikan bahwa karya-karya besar seringkali lahir dari proses yang beragam, mulai dari eksperimen, kolaborasi, hingga permainan intelektual.
Kritik Untoro juga terkesan mengabaikan konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi penciptaan seni. Seni kontemporer seringkali merupakan respons terhadap realitas sosial, politik, dan ekonomi yang kompleks. Apakah kita bisa menyederhanakan karya-karya yang mengkritik sistem kapitalisme, patriarki, atau kolonialisme menjadi sekadar persoalan “ketelanjangan diri”?
Lebih lanjut, Untoro juga mengkritik penggunaan teknologi dalam seni sebagai sesuatu yang dipaksakan. Padahal, teknologi telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita dan seringkali menjadi medium yang powerful untuk mengekspresikan ide-ide baru dan inovatif. Apakah kita harus menolak penggunaan teknologi hanya karena dianggap tidak “otentik”?
Seni kontemporer memang kompleks dan beragam, dan tidak bisa direduksi menjadi satu narasi tunggal. Seni tentang eksplorasi diri, tapi juga tentang masyarakat, politik, dan budaya. Seni tentang teknologi, tapi juga tentang tradisi dan warisan. Mari kita buka diri kita untuk memahami kompleksitas seni dan tidak terjebak dalam narasi simplistik.
Jiwa dalam Antropologi Filsafat
“Pisau Bedah” Ugo Untoro tentang ‘kehilangan ruh’ dalam seni kontemporer kita memang tajam, tapi sempit, narasinya cenderung menyederhanakan kompleksitas konsep “jiwa” dan kejujuran dalam seni. Dari perspektif antropologi filsafat, “jiwa” bukanlah entitas yang statis dan dapat direduksi menjadi sekadar persoalan “ketelanjangan diri” atau kehilangan kemurnian.
Konsep “jiwa” dalam filsafat antropologi lebih terkait dengan proses dinamis dan kompleks yang melibatkan interaksi antara individu, masyarakat, dan budaya. “Jiwa” adalah produk dari proses sosialisasi, internalisasi nilai-nilai, dan pengalaman hidup yang beragam. Oleh karena itu, seni yang “berjiwa” tidak hanya tentang mengungkapkan luka atau penderitaan, tapi juga tentang mengeksplorasi kompleksitas pengalaman manusia.
Kejujuran dalam karya seni juga tidak melulu tentang “merawat luka” atau “membiarkan luka menganga”. Kejujuran dapat muncul dari eksperimen, keingintahuan yang mentah, bahkan komedi. Seni dapat menjadi medium untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru, mempertanyakan asumsi-asumsi yang ada, dan menciptakan pengalaman estetika yang unik.
Pandangan Ugo Untoro tentang kejujuran dalam seni cenderung mengabaikan kompleksitas proses kreatif dan pengalaman estetika. Seni tidak hanya tentang mengungkapkan kebenaran, tapi juga tentang menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dan memperluas batas-batas pengalaman manusia.
Perspektif Alternatif: Kejujuran dalam Seni
Kejujuran dalam seni dapat muncul dari berbagai pintu, seperti:
– Eksperimen: Mencoba hal-hal baru dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang ada.
– Keingintahuan yang mentah: Mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dan mempertanyakan apa yang sudah diketahui.
– Komedi: Menggunakan humor dan ironi untuk mempertanyakan kebenaran dan menciptakan pengalaman estetika yang unik.
– Kolaborasi: Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan sesuatu yang baru dan unik.
Dengan demikian, kejujuran dalam seni tidak hanya tentang mengungkapkan kebenaran, tapi juga tentang menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dan memperluas batas-batas pengalaman manusia. [*]
Surabaya, 7 Februari 2026
Berikut tulisan Ugo Untoro
Menelusuri Jejak Roh yang Hilang dalam Seni Kontemporer Kita
Oleh: Ugo Untoro
Belakangan ini, ada perasaan ganjil saat kita melangkah di antara deretan karya seni kontemporer di galeri-galeri besar.
Secara visual, semuanya tampak memukau—megah, canggih, dan sangat “fotogenik”. Namun, ada sebuah pertanyaan yang terus mengusik di balik keindahan itu: ke mana perginya ruhnya?
Mengapa karya-karya ini terasa dingin, seolah kehilangan denyut darah dan tetesan keringat dari penciptanya?
Mungkin semua bermula dari euforia kita terhadap teknologi. Kita sedang berada di masa di mana pemakaian teknologi dalam seni sering kali terasa dipaksakan. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu, mendadak “diperlu-perlukan” hanya agar karya tersebut terlihat mutakhir atau tidak ketinggalan zaman.
Padahal, tanpa substansi yang kuat, teknologi hanyalah bungkus kosong yang gagal menyampaikan pesan jiwa.
Kelesuan spiritual ini diperparah oleh cara kita memahami kontemporeritas itu sendiri. Banyak perupa yang terjebak pada kulit luar; mereka “menjual” isu-isu besar seperti eksotisme kekerasan, kekuasaan, lingkungan, hingga feminisme hanya karena hal itu sedang menjadi tren di pasar global.
Ada beban ketakutan kolektif untuk menggali wilayah personal yang lebih dalam. Kita takut dibilang jelek, takut tidak laku, atau takut dianggap tidak relevan dengan tren yang sedang naik daun.
Padahal, esensi seni sejati adalah keberanian untuk menelanjangi diri sendiri dan mengeluarkan apa yang benar-benar kita punya, tanpa peduli label pasar.
Lebih menyedihkan lagi, kita kehilangan “spirit anak-anak” dalam berkarya. Keasyikan bermain dan kemurnian batin dalam menciptakan sesuatu kini mulai terkikis oleh tuntutan jam tayang dan jadwal pameran yang padat.
Seni tidak lagi menjadi ruang meditasi atau taman bermain, melainkan sebuah pabrik produksi.
Ironisnya, sistem pendukung seni kita pun ikut terseret dalam arus ini. Para pengamat, penulis, kurator, hingga galeri cenderung bermain aman. Mereka hanya memberikan perhatian pada karya yang sedang tren dan menjanjikan keuntungan finansial.
Alih-alih bersusah payah melakukan riset mendalam atau mencari permata yang tersembunyi, banyak dari mereka yang cukup “mendengar” siapa dan apa yang sedang menghasilkan banyak rupiah.
Jika ditambah dengan kurikulum pendidikan seni yang semakin meminggirkan penggodokan karakter, maka lengkaplah sudah resep kehampaan ini.
Pada akhirnya, panggung seni kita dipenuhi oleh eksplorasi media yang luar biasa, di mana siapa pun bisa menjadi perupa dan apa pun bisa disebut seni. Namun, tanpa jiwa, tanpa darah, dan tanpa keringat, semua itu hanyalah benda mati.
Kita mungkin akan berpapasan di ruang pamer, saling melempar senyum tipis, lalu berbisik, “Oh, artistik sekali karyamu…” sembari menyimpan tawa getir atas hilangnya nyawa di balik kanvas dan instalasi megah itu.
2026
sumber:
FB Ugo Untoro



















