Penulis📰✍️ Moh Syafi’, S.Ag
BN News – Alhamdulillah kita sudah memasuki Ramadhan ke 4 dalam keadaan sehat Walafiat. Tentu ini menjadi modal yang sangat berharga untuk terus Istiqomah dan ketawadluan dalam menjalankan ibadah Puasa sampai paripurna di tahun ini.
Ketika seorang yang berpuasa menyaksikan manusia di sekitarnya berpuasa, maka ia akan merasakan puasa sebagai sesuatu yang ringan dilaksanakan. Ia juga akan merasa sebagai bagian tak terpisah dari masyarakatnya yang semuanya diikat oleh hubungan kesatuan ibadah yang merupakan poros bagi semua anggota masyarakat.
Bila kita bandingkan antara puasa sunnah dengan puasa ramadan, kita temukan bahwa ternyata puasa sunnah terasa lebih berat dilaksanakan. Berbeda halnya dengan puasa ramadan yang hukumnya wajib, terasa lebih ringan dan mudah. Untuk kita kerjakan tidak ada beban dalam melaksanakannya.
Alasannya adalah seperti telah disebutkan sebelumnya. Dalam puasa Ramadan, hampir semua orang di sekitar kita juga berpuasa. Di pasar, para penjual dan pembeli berpuasa. Di dalam rumah, anggota keluarga berpuasa. Di sekolah dan tempat kerja, orang-orang juga sedang puasa. Dan demikianlah seterusnya. Manusia muslim akan merasakan kebersamaan dalam berpuasa, sehingga ia terbantu menjalani puasa. Dengan itu dia bisa menikmati pekerjaan yang sebenarnya berat baginya.
Oleh sebab itu, kita dapati orang-orang yang memasuki bulan Ramadan di negeri-negeri berpenduduk mayoritas non-muslim untuk kepentingan yang mendesak tertentu, entah karena sakit atau karena sebab yang lain, menghadapi kesulitan yang sangat jelas saat berpuasa. Pasalnya, masyarakat di sekitarnya tidak berpuasa. Mereka makan dan minum. Dan dia sendiri tidak bisa tidak, harus berinteraksi dengan mereka.
Jika demikian, maka perasaan orang yang puasa bahwa orang-orang di sekitarnya turut serta bersamanya dalam beribadah akan menjadikan puasa terasa ringan baginya. Hal ini adalah sesuatu yang tampak jelas, bahkan pada masyarakat yang mungkin Syiar Islam di dalamnya hanya tersisa sedikit. Pengaruh Ramadan bisa dilihat pada semua manusia.
Pada diri orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan di masyarakat yang didominasi oleh kerusakan pun, pengaruh Romadhon dapat dirasakan. Itu semua merupakan bagian dari pembinaan Islam kepada masyarakat secara keseluruhan. Lantaran itu, perhatian Islam terhadap perbaikan masyarakat sangat besar.
Kerusakan yang dilakukan oknum-oknum tertentu dalam masyarakat tentu sesuatu yang tak mungkin dihilangkan sama sekali. Sejumlah kasus pelanggaran juga pernah terjadi pada masyarakat zaman Sahabat yang mulia. Di anatara mereka ada yang terjerumus melakukan pencurian, meminum khamr, dan berzina.
Semua ini pasti terjadi. Tetapi yang tidak dapat dibenarkan adalah, kemungkaran dilakukan secara luas dan terang-terangan dalam masyarakat Muslim. Sehingga masyarakat umum terkontaminasi akhlaknya dan terpengaruh. Akibatnya, sulit bagi orang yang ingin berjalan di atas kebaikan untuk mendapatkan hidayah. Karena masyarakat menekan dan menghalanginya dari mencapai tujuannya.
Dari titik tolak ini pula musuh-musuh Islam berusaha keras untuk merusak masyarakat islam. Lewat media, mereka menggerogoti tata nilai dalam masyarakat, sehingga terjadi kerusakan pada pemikiran, aqidah, akhlaq dan tradisi masyarakat.
Kesimpulannya, pembinaan masyarakat merupakan cita-cita Islam. Puasa adalah salah satu sarana pembinaan itu. Manfaat puasa dalam pembinaan masyarakat sangat jelas. Di antara fenomenanya, selain yang telah disebutkan di atas, adalah bahwa sampai anak kecil sekalipun, dalam masyarakat muslim terbiasa melakukan puasa. Apalagi didukung dengan berbagai macam kegiatan positif selama Ramadan, seperti : Ngaji di Majelis Taklim, Musholla, Masjid, lembaga pendidikan serta menyenangkan antara Hablumminallah dan Habluminnas (Ibadah Sosial) tentu lebih lengkap.
Semoga dengan Tarbiyah Ramadan 1446 H umat Islam semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya serta bisa dijadikan edukasi dan selalu menginspirasi bagi masyarakat secara luas. Aamiin !! (*)
*Penulis adalah Kamad MI Alkarimi Gresik
















