Pamekasan, BN News — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Ahmad Sruji Bahtiar, menyampaikan khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid Agung Asy-Syuhada’, Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (21/3/2026).
Dalam khutbahnya, Bahtiar mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada fitrah, khususnya fitrah tauhid, yakni penghambaan yang tulus hanya kepada Allah SWT. Ia menekankan bahwa nilai-nilai ketakwaan yang telah dilatih selama bulan Ramadan hendaknya tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa salah satu bukti ketauhidan seseorang dapat dilihat dari bagaimana sikapnya ketika menghadapi perlakuan tidak baik dari orang lain. Menurutnya, respon seseorang saat disakiti menjadi cerminan kualitas iman dan kedekatannya kepada Allah SWT.
“Salah satu bukti ketauhidan seseorang adalah bagaimana sikapnya ketika disakiti. Apakah ia membalas karena ego, atau bersabar dan memaafkan karena Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa orang yang memiliki tauhid yang kuat akan meyakini bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Adil, sehingga tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, sikap memaafkan justru menjadi jalan untuk meraih pahala dan kemuliaan di sisi Allah.
Dalam khutbahnya, ia juga meneladankan sikap Rasulullah SAW yang tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya meskipun disakiti dan diperlakukan tidak baik. Keteladanan tersebut, menurutnya, menjadi dasar bagi umat Islam untuk mengedepankan kesabaran, kelembutan, dan sikap pemaaf dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahtiar juga mengingatkan bahwa berbagai ujian, termasuk perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain, merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT yang mengandung hikmah, di antaranya sebagai penghapus dosa dan peningkat derajat seseorang.
Menutup khutbahnya, ia menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan momentum untuk saling memaafkan dan membersihkan hati dari rasa dendam. Sikap memaafkan merupakan bukti bahwa seseorang lebih mengedepankan keimanan dan kepercayaan kepada keadilan Allah dibandingkan dorongan emosi semata.
“Idul Fitri adalah momentum untuk kembali kepada hati yang bersih. Tauhid yang kuat akan melahirkan kesabaran, ketenangan, dan kelapangan dalam memaafkan,” pungkasnya. (Kemenag Jatim/Telisik Hati)
















